Meski mulai dibuka, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mengalami penurunan signifikan.
Data menunjukkan jumlah kapal yang melintas turun drastis dari sekitar 138 kapal per hari sebelum konflik menjadi hanya lima hingga enam kapal per hari.
Sebagian besar kapal yang masih beroperasi kini memilih jalur lebih dekat ke wilayah Iran demi mendapatkan pengawasan dan perlindungan langsung dari otoritas setempat.
Di sisi lain, Iran tetap menutup akses bagi kapal yang berasal dari atau berafiliasi dengan negara yang dianggap musuh, termasuk Amerika Serikat dan sekutunya.
Bagaimana Nasib Kapal Indonesia?
Di tengah perkembangan tersebut, dua kapal tanker Indonesia masih belum mendapatkan izin melintas.
Kapal Pertamina Pride dan Gamsunoro dilaporkan masih tertahan di perairan Teluk Arab hingga 26 Maret 2026.
Pertamina Pride saat ini berada di dekat Dammam, Arab Saudi, sementara Gamsunoro terpantau di wilayah perbatasan Kuwait dan Irak.
Keduanya belum memperoleh lampu hijau dari otoritas Iran untuk melanjutkan perjalanan.
Meski demikian, pihak Pertamina International Shipping memastikan kondisi awak kapal dan muatan tetap aman. Mereka juga menegaskan bahwa situasi ini tidak berdampak pada pasokan energi nasional.
Baca Juga: Israel-AS Serang Iran, Kemlu RI Pastikan Keselamatan WNI
Diplomasi Indonesia Masih Berlangsung
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri terus melakukan komunikasi intensif dengan pihak Iran.
