POSKOTA.CO.ID - Di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, pemerintah Iran mulai melonggarkan kontrol atas Selat Hormuz jalur strategis perdagangan minyak global.
Teheran kini secara selektif mengizinkan kapal-kapal dari negara tertentu untuk melintas dengan pengawalan militer guna menjamin keamanan pelayaran.
Kebijakan ini menandai perubahan sikap Iran yang sebelumnya memperketat akses akibat konflik.
Namun, izin hanya diberikan kepada negara yang memiliki hubungan diplomatik baik dengan Teheran.
Baca Juga: Sejarah Hari Perempuan Internasional 8 Maret dan Makna Pentingnya bagi Dunia
Kapal Negara Sahabat Mulai Diizinkan Melintas

Sinyal pelonggaran ini terlihat dari keberhasilan kapal tanker milik Thailand yang berhasil melintasi Selat Hormuz dengan aman pada 23 Maret 2026.
Pemerintah Thailand mengungkapkan bahwa keberhasilan tersebut tidak lepas dari upaya diplomasi intensif dengan pihak Iran.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa negaranya tidak menutup total jalur tersebut.
Ia menyebut sejumlah negara seperti China, Rusia, India, Pakistan, Irak, hingga Bangladesh telah menjalin koordinasi untuk memastikan keamanan kapal mereka.
Baca Juga: Dua Kapal Tanker Pertamina Terjebak di Selat Hormuz, Pemerintah RI Lakukan Negosiasi
Menurutnya, kapal dari negara-negara tersebut bahkan mendapat pengawalan khusus saat melintas di wilayah perairan sensitif tersebut.
Lalu Lintas Selat Hormuz Turun Drastis
Meski mulai dibuka, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mengalami penurunan signifikan.
Data menunjukkan jumlah kapal yang melintas turun drastis dari sekitar 138 kapal per hari sebelum konflik menjadi hanya lima hingga enam kapal per hari.
Sebagian besar kapal yang masih beroperasi kini memilih jalur lebih dekat ke wilayah Iran demi mendapatkan pengawasan dan perlindungan langsung dari otoritas setempat.
Di sisi lain, Iran tetap menutup akses bagi kapal yang berasal dari atau berafiliasi dengan negara yang dianggap musuh, termasuk Amerika Serikat dan sekutunya.
Bagaimana Nasib Kapal Indonesia?
Di tengah perkembangan tersebut, dua kapal tanker Indonesia masih belum mendapatkan izin melintas.
Kapal Pertamina Pride dan Gamsunoro dilaporkan masih tertahan di perairan Teluk Arab hingga 26 Maret 2026.
Pertamina Pride saat ini berada di dekat Dammam, Arab Saudi, sementara Gamsunoro terpantau di wilayah perbatasan Kuwait dan Irak.
Keduanya belum memperoleh lampu hijau dari otoritas Iran untuk melanjutkan perjalanan.
Meski demikian, pihak Pertamina International Shipping memastikan kondisi awak kapal dan muatan tetap aman. Mereka juga menegaskan bahwa situasi ini tidak berdampak pada pasokan energi nasional.
Baca Juga: Israel-AS Serang Iran, Kemlu RI Pastikan Keselamatan WNI
Diplomasi Indonesia Masih Berlangsung
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri terus melakukan komunikasi intensif dengan pihak Iran.
Upaya ini bertujuan agar Indonesia masuk dalam kategori “negara sahabat” sehingga kapal-kapal nasional dapat melintas dengan aman.
Keputusan akhir kini bergantung pada hasil diplomasi tersebut.
Jika berhasil, kapal Indonesia berpotensi segera menyusul negara lain yang telah lebih dulu mendapatkan akses di jalur vital perdagangan energi dunia itu.