POSKOTA.CO.ID - Aktor muda Emir Mahira mengungkap perjalanan spiritualnya dalam memahami ajaran Islam, khususnya terkait isu sensitif dalam rumah tangga. Ia mengaku sempat memiliki pertanyaan besar terhadap sejumlah aturan yang dianggap kontroversial, salah satunya mengenai hak suami terhadap istri.
Dalam keterangannya kepada media, Emir tidak menampik bahwa isu tersebut pernah menjadi ganjalan serius dalam proses pencarian makna agama yang ia jalani. Rasa penasaran itu mendorongnya untuk tidak berhenti pada asumsi, melainkan menggali lebih dalam melalui diskusi dan kajian.
“Jadi di Islam itu diizinkan, yang aku permasalahkan dulu adalah seorang suami itu boleh memukul istri jika istri itu salah. Itu sesuatu yang sangat aku permasalahkan,” ujar Emir.
Baca Juga: Spoiler One Piece 1177 Part 1: Arc Elbaph Menuju Klimaks, Luffy vs Im Dimulai?
Dialog dengan Ulama dan Klarifikasi Makna
Alih-alih menelan mentah-mentah informasi yang beredar, Emir memilih melakukan riset dan berdialog langsung dengan para ahli agama. Salah satu momen penting dalam proses tersebut adalah ketika ia mendapat kesempatan berbincang dengan ulama ternama, Quraish Shihab.
Dari diskusi tersebut, Emir mengaku memperoleh perspektif yang lebih utuh. Ia memahami bahwa istilah “memukul” dalam konteks ajaran Islam tidak dapat dimaknai secara literal sebagai kekerasan fisik.
“Tapi aku pelajari lebih dalam, aku cari tahu. Alhamdulillah ada kesempatan untuk ngobrol dengan Ustaz Quraish Shihab dan juga ustaz-ustaz lain, bahwa aku menemukan jawabannya,” tuturnya.
Menurut Emir, makna “memukul” lebih merujuk pada tindakan simbolik yang tidak menyakiti, tidak membekas, serta tidak dilakukan di area sensitif seperti wajah. Ia mencontohkan bentuk teguran ringan sebagai upaya menghentikan tindakan yang dianggap berbahaya.
“Suami itu boleh memukul dalam konteks menahan. Misalnya kita takut istri memukul anak, itu bisa kita tepok untuk menahan, ‘Hei, sadar. Jangan’. Dan tidak boleh menyakiti,” jelasnya.
Kritik terhadap Penyalahartian Ajaran
Emir menilai, kesalahpahaman yang selama ini berkembang lebih banyak disebabkan oleh perilaku individu yang menyimpang, bukan dari esensi ajaran agama itu sendiri. Ia menegaskan pentingnya membedakan antara nilai-nilai Islam dengan praktik keliru yang dilakukan sebagian oknum.
Baginya, penyalahartian ayat suci untuk kepentingan pribadi justru menjadi sumber munculnya stigma negatif terhadap Islam. Oleh karena itu, ia kini lebih berhati-hati dalam memahami konteks ajaran sebelum menarik kesimpulan.
Baca Juga: Penyebab Agnes Jennifer dan David Clement Cerai Apa? Viral Kisah Cinta Berakhir di Tanggal yang Sama
Perbaiki Diri Sebelum Bicara Agama
Dalam perjalanannya, Emir juga mengaku terinspirasi oleh nasihat yang disampaikan Quraish Shihab. Pesan tersebut menekankan pentingnya memperbaiki diri sebelum mendalami atau membahas agama secara lebih jauh.
“Ada satu perkataan Ustaz Quraish Shihab yang menurut aku sangat resonate. Beliau bilang, ‘Jangan berani-berani menyentuh agama kalau kita belum fokus memperbaiki diri sendiri’,” ungkap Emir.
Ia menambahkan bahwa niat yang tidak lurus dalam mempelajari agama dapat berujung pada pembenaran tindakan yang keliru. Oleh karena itu, menurutnya, menjadi pribadi yang baik adalah fondasi utama sebelum mendalami ajaran agama.
Pengalaman berdialog dengan para tokoh agama membuat Emir semakin yakin untuk terus memperdalam pemahaman tentang Islam, khususnya dalam konteks kehidupan rumah tangga. Ia merasa beruntung memiliki akses untuk belajar langsung dari sumber yang kredibel.
Perjalanan ini menjadi titik balik bagi Emir untuk tidak hanya memahami agama secara tekstual, tetapi juga kontekstual, dengan mengedepankan nilai kemanusiaan dan keadilan.
