Kenapa Suami Boleh Memukul Istri? Emir Mahira Cari Jawaban Langsung ke Ustaz Quraish Shihab

Senin 23 Mar 2026, 14:43 WIB
Emir Mahira mengungkap proses pencarian pemahaman agama melalui diskusi dengan ulama, termasuk Quraish Shihab, terkait isu rumah tangga dalam Islam. (Sumber: Instagram/@Emira Mahira)

Emir Mahira mengungkap proses pencarian pemahaman agama melalui diskusi dengan ulama, termasuk Quraish Shihab, terkait isu rumah tangga dalam Islam. (Sumber: Instagram/@Emira Mahira)

POSKOTA.CO.ID - Aktor muda Emir Mahira mengungkap perjalanan spiritualnya dalam memahami ajaran Islam, khususnya terkait isu sensitif dalam rumah tangga. Ia mengaku sempat memiliki pertanyaan besar terhadap sejumlah aturan yang dianggap kontroversial, salah satunya mengenai hak suami terhadap istri.

Dalam keterangannya kepada media, Emir tidak menampik bahwa isu tersebut pernah menjadi ganjalan serius dalam proses pencarian makna agama yang ia jalani. Rasa penasaran itu mendorongnya untuk tidak berhenti pada asumsi, melainkan menggali lebih dalam melalui diskusi dan kajian.

“Jadi di Islam itu diizinkan, yang aku permasalahkan dulu adalah seorang suami itu boleh memukul istri jika istri itu salah. Itu sesuatu yang sangat aku permasalahkan,” ujar Emir.

Baca Juga: Spoiler One Piece 1177 Part 1: Arc Elbaph Menuju Klimaks, Luffy vs Im Dimulai?

Dialog dengan Ulama dan Klarifikasi Makna

Alih-alih menelan mentah-mentah informasi yang beredar, Emir memilih melakukan riset dan berdialog langsung dengan para ahli agama. Salah satu momen penting dalam proses tersebut adalah ketika ia mendapat kesempatan berbincang dengan ulama ternama, Quraish Shihab.

Dari diskusi tersebut, Emir mengaku memperoleh perspektif yang lebih utuh. Ia memahami bahwa istilah “memukul” dalam konteks ajaran Islam tidak dapat dimaknai secara literal sebagai kekerasan fisik.

“Tapi aku pelajari lebih dalam, aku cari tahu. Alhamdulillah ada kesempatan untuk ngobrol dengan Ustaz Quraish Shihab dan juga ustaz-ustaz lain, bahwa aku menemukan jawabannya,” tuturnya.

Menurut Emir, makna “memukul” lebih merujuk pada tindakan simbolik yang tidak menyakiti, tidak membekas, serta tidak dilakukan di area sensitif seperti wajah. Ia mencontohkan bentuk teguran ringan sebagai upaya menghentikan tindakan yang dianggap berbahaya.

“Suami itu boleh memukul dalam konteks menahan. Misalnya kita takut istri memukul anak, itu bisa kita tepok untuk menahan, ‘Hei, sadar. Jangan’. Dan tidak boleh menyakiti,” jelasnya.

Kritik terhadap Penyalahartian Ajaran

Emir menilai, kesalahpahaman yang selama ini berkembang lebih banyak disebabkan oleh perilaku individu yang menyimpang, bukan dari esensi ajaran agama itu sendiri. Ia menegaskan pentingnya membedakan antara nilai-nilai Islam dengan praktik keliru yang dilakukan sebagian oknum.

Baginya, penyalahartian ayat suci untuk kepentingan pribadi justru menjadi sumber munculnya stigma negatif terhadap Islam. Oleh karena itu, ia kini lebih berhati-hati dalam memahami konteks ajaran sebelum menarik kesimpulan.


Berita Terkait


News Update