"Bahkan sekarang sudah terjadi di beberapa daerah seperti Semarang dan Tegal. Fenomena penurunan tanah juga muncul di berbagai wilayah lainnya," ujarnya.
Karena itu, menurut Arief, pengendalian penggunaan air tanah menjadi langkah penting untuk melindungi lingkungan sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya air.
Arief menilai ketersediaan layanan air bersih perpipaan merupakan salah satu syarat penting jika Jakarta ingin mewujudkan diri sebagai kota global.
Baca Juga: Sempat Terganggu Sebulan, Warga Jembatan Besi Jakbar Kembali Dapat Air Bersih PAM Jaya
Menurutnya, tidak masuk akal jika kota dengan ambisi global masih menghadapi persoalan mendasar terkait akses air bersih bagi masyarakat.
"Rasanya aneh jika kita ingin menjadi kota global tetapi persoalan air bersih dan jaringan perpipaan belum selesai," ujarnya.
Jaringan Pipa PAM Jaya Sudah Capai 12.835 Kilometer
Berdasarkan data PAM Jaya, cakupan layanan air perpipaan saat ini telah mencapai 80,24 persen dengan panjang jaringan pipa sekitar 12.835,21 kilometer.
Jumlah pelanggan tercatat sebanyak 1.178.022 sambungan, dengan total distribusi air mencapai 22.583 liter per detik (LPS).
Baca Juga: Tingkatkan Sanitasi Warga, PAM Jaya-PALJAYA Perbaiki MCK Komunal di Manggarai
Arief menambahkan, ketersediaan air bersih tidak hanya berdampak pada aspek lingkungan, tetapi juga memengaruhi berbagai sektor penting lainnya.
Menurutnya, setidaknya ada empat sektor besar yang terdampak langsung oleh layanan air bersih, yaitu:
- Lingkungan
- Kesehatan
- Sosial budaya
- Ekonomi masyarakat
Ke depan, PAM Jaya menargetkan cakupan layanan air bersih di Jakarta dapat mencapai 100 persen pada tahun 2029.
