(3) Kita bangga pada ekonom pasar bebas (jahat) dan tidak menghukum rezim yang tak punya solusi. Sudah 80 tahun kita merdeka, sudah selama itu para ekonom pasar bebas mengelola negara. Dengan julukan yang keren-keren, arsitektur ekonomi kita mundur, rapuh dan mudah luluh lantak. Pejabat dan ekonom datang silih berganti, tapi struktur penjajahan ekonomi tak berganti.
Fondasi utamanya hanya ekstraktifisme: jenis ekonomi yang berfokus pada pengambilan dan penjualan sumber daya alam serta pungutan pajak. Ekonomi ini tidak berfokus pada pengolahan atau manufaktur, bahkan anti hilirisasi dan industrialisasi.
Dengan model ekonomi seperti ini tentu daya saing kita tak ada, daya tahan kita kosong, daya hidup kita rentan. Datanglah agama KKN sebagai kehidupan yang haram tapi ditradisikan. Inilah satu-satunya daya kita dalam bernegara.
Dengan tiga serangan yang memantapkan kemiskinan menjadi dalam dan tanpa solusi, sesungguhnya kita sedang menyaksikan karakter purba para keturunan homo sapiens yang penuh ambisi, egois, dendam, kejahatan, kesombongan, hasrat menguasai orang lain.
Mereka bicara dengan bahasa politik sok bijaksana; di bawah perintah Tuhan; mewartakan pembaruan generasi; pembelaan HAM; iman pada demokrasi; membasmi kejahatan, dan kalimat indah lainnya. Tetapi intinya satu: kemiskinan diturunkan, dari generasi ke generasi. Bukan dilenyapkan.
Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Di Bawah Ekonomi Kalabendu
Mungkinkah ini tafsir sesat dari Pasal 34 Ayat 1 UUD 1945 yang berbunyi, "fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara"? Entahlah.
