Baca Juga: Dua Kapal Tanker Pertamina Terjebak di Selat Hormuz, Pemerintah RI Lakukan Negosiasi
Presiden AS Donald Trump sebelumnya sempat meremehkan Mojtaba sebagai figur "enteng" dan menyatakan suksesi harus melalui persetujuannya. Nyatanya, Teheran mengabaikan gertakan tersebut sepenuhnya.
Mojtaba: Pemimpin Garis Keras dengan Ikatan Kuat IRGC
Berbeda dari ayahnya, Mojtaba dikenal memiliki hubungan organik mendalam dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan milisi Basij.
Penunjukannya diyakini akan memperluas pengaruh IRGC dalam urusan negara, termasuk pengawasan domestik yang lebih ketat di tengah krisis ekonomi yang melanda Iran.
Paket analis seperti Alan Eyre, mantan diplomat AS dan pakar Iran, memperingatkan bahwa dunia mungkin akan "merindukan" era Ali Khamenei.
Mojtaba diprediksi memerintah dengan tangan besi untuk mengonsolidasikan kekuasaan, didorong oleh dendam pribadi dan komitmen ideologis yang lebih kuat.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melonjak, Pemerintah Pastikan BBM Subsidi Tidak Naik hingga Idulfitri 2026
Pintu Diplomasi Tertutup Rapat
Peneliti senior Paul Salem menegaskan bahwa kepemimpinan Mojtaba menutup peluang diplomasi dengan Washington. Sosok ini bukan tipe yang mau duduk di meja perundingan atau mencari kompromi damai.
Di tengah lonjakan harga minyak global akibat ketegangan di Selat Hormuz, dunia kini menghadapi prospek konfrontasi berkepanjangan.
Pilihan Teheran terhadap figur konfrontatif membuktikan bahwa operasi militer AS-Israel gagal mencapai tujuan utama: menggoyahkan pondasi kekuasaan ulama di Iran.
Keputusan ini tidak hanya menunjukkan resiliensi rezim, tapi juga mengirim sinyal kuat bahwa Iran siap melanjutkan perlawanan tanpa kompromi.
