Ia menegaskan bahwa pasokan BBM nasional masih berada dalam kondisi aman karena distribusi melalui Pertamina berjalan dengan baik. Dengan demikian, masyarakat diimbau untuk tidak khawatir terkait ketersediaan bahan bakar menjelang hari raya.
Pemerintah juga terus memantau perkembangan harga minyak dunia untuk menentukan langkah kebijakan selanjutnya.
Baca Juga: Kejagung Geledah Kantor Ombudsman RI Terkait Dugaan Perintangan Penyidikan Kasus CPO
Dampak Penutupan Selat Hormuz
Kenaikan tajam harga minyak dunia dipicu oleh ditutupnya jalur pelayaran strategis Selat Hormuz akibat meningkatnya ketegangan antara Iran dan sejumlah pihak terkait.
Data CNBC menunjukkan bahwa minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) mengalami lonjakan sebesar 26,5 persen hingga mencapai 114,9 dolar AS per barel. Sementara itu, harga minyak Brent tercatat naik sekitar 23 persen ke level 114,25 dolar AS per barel.
Lonjakan tersebut mencerminkan tingginya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak global.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai tren kenaikan harga minyak berpotensi berlanjut apabila konflik di kawasan tersebut belum menemukan solusi.
"Penutupan jalur strategis tersebut berdampak pada produksi minyak. Di sisi lain, AS tengah mempertimbangkan pencabutan sanksi ekonomi terhadap Iran agar aliran minyak mentah kembali normal," jelas Ibrahim.
Ia juga memperkirakan harga minyak Brent berpotensi menembus angka 150 dolar AS per barel jika gangguan distribusi energi dari Timur Tengah terus berlangsung.
Baca Juga: Konflik Timur Tengah Picu Ancaman Krisis Energi, Pemerintah Diminta Antisipasi Dampak Ekonomi Global
Kenaikan Harga Minyak Picu Ancaman Inflasi
Lonjakan harga minyak mentah global tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga berpotensi memicu tekanan inflasi di berbagai negara.
Ibrahim mengingatkan bahwa kenaikan harga energi biasanya akan merembet ke berbagai sektor lain, terutama logistik, transportasi, hingga harga barang konsumsi.
