POSKOTA.CO.ID - Timur Tengah kini dilanda api perang yang semakin membara sejak akhir Februari 2026. Apa yang dimulai sebagai serangan balasan antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran telah berkembang menjadi konflik regional penuh.
Iran melancarkan serangan balasan ke negara-negara Teluk yang dianggap sekutu Washington, termasuk fasilitas vital dan target militer.
Perang ini memasuki hari ke-8 dengan gelombang serangan udara intensif.
AS dan Israel terus membombardir target di Tehran, termasuk infrastruktur minyak dan pangkalan militer, sementara Iran membalas dengan rudal dan drone ke arah Israel serta sekutu regionalnya.
Baca Juga: Trump Murka Inggris-Spanyol Tolak Bantu AS Serang Iran
Trump: Visi Penghancuran Total dan Panggilan Revolusi Rakyat Iran

Dari Mar-a-Lago, Florida, Presiden AS Donald Trump kembali tampil dengan gaya khasnya yang tegas dan tak konvensional.
Dalam pernyataan video, Trump menegaskan bahwa tujuan operasi militer adalah menghancurkan sepenuhnya kemampuan militer Iran, termasuk angkatan laut, program rudal, dan dukungan terhadap kelompok proksi.
"Kami akan menghancurkan rudal mereka dan meratakan industri militer hingga ke tanah," ujar Trump.
Ia juga menyerukan rakyat Iran untuk bangkit merebut kekuasaan di tengah serangan udara, dengan harapan angin perubahan rezim akan berhembus kuat.
Baca Juga: China Tuduh AS Kecanduan Perang, Sebut Washington Sumber Kekacauan Global
Namun, pertaruhan ini sangat berisiko. Sejarah menunjukkan bahwa serangan udara saja jarang berhasil menggulingkan rezim tanpa invasi darat besar-besaran, seperti yang terjadi di Irak 2003 atau Libya 2011.
Trump menuntut "penyerahan tanpa syarat" dari Teheran, sambil menegaskan operasi bisa berlangsung berminggu-minggu atau lebih lama.
Netanyahu: Perang sebagai Jalan Penebusan dan Kelangsungan Politik
Di Tel Aviv, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan Israel akan terus menyerang "dengan segala kekuatan" hingga mencapai "kebebasan langit" atas Iran. Ia menjanjikan "banyak kejutan" di fase selanjutnya konflik ini.
Bagi Netanyahu, perang melawan Iran menjadi penebusan atas kegagalan intelijen terkait serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Dengan pemilu Israel yang mengintai, kemenangan telak atas ancaman Iran dipandang sebagai tiket politik untuk mempertahankan kekuasaan.
Tujuannya jelas: melumpuhkan kemampuan Iran membangun milisi proksi yang mengancam perbatasan Israel.
Baca Juga: Profil Mojtaba Khamenei: Putra Ali Khamenei yang Digadang Jadi Pemimpin Tertinggi Iran
Ketangguhan Iran: Mengapa Rezim Sulit Diruntuhkan?
Meski Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan awal AS-Israel pada 28 Februari 2026, Iran bukan rezim yang bergantung pada satu figur saja.
Sistem Republik Islam dibangun atas jaringan institusi kuat yang saling terkait.
- IRGC (Korps Garda Revolusi Islam): Dengan sekitar 190.000 personel aktif, kelompok ini menguasai ideologi, ekonomi, dan operasi militer rahasia.
- Basij: Pasukan paramiliter sukarelawan hingga 450.000 orang, dikenal sangat loyal dan efektif menekan protes dalam negeri.
- Doktrin Syahid: Kematian pemimpin justru dimaknai sebagai martir yang memotivasi perlawanan, bukan tanda kekalahan.
Iran kini telah menunjuk Mojtaba Khamenei, putra almarhum, sebagai Pemimpin Tertinggi baru. Langkah ini menandakan rezim berupaya menjaga kontinuitas dan menolak runtuh di bawah tekanan militer.
Baca Juga: Konflik Iran vs AS-Israel Memanas, 7 Negara Tutup Wilayah Udara dan Ribuan Penerbangan Batal
Risiko Terburuk: Bayang-Bayang Negara Gagal Raksasa
Dunia patut waspada. Iran memiliki populasi lebih dari 90 juta jiwa tiga kali lipat Irak.
Jika rezim runtuh tanpa transisi yang teratur, kawasan berpotensi terjebak dalam perang saudara panjang seperti di Suriah, dengan korban jiwa ratusan ribu dan gelombang pengungsi massal.
Pertaruhan besar Trump dan Netanyahu untuk menciptakan Timur Tengah yang lebih aman justru berhadapan dengan preseden pahit Irak dan Libya, di mana intervensi militer meninggalkan luka mendalam yang belum sembuh hingga kini.
Konflik ini bukan hanya soal militer, melainkan taruhan geopolitik yang bisa mengubah peta kekuatan regional selamanya.
