POSKOTA.CO.ID - Isu mengenai kemungkinan pecahnya Perang Dunia ke-3 kembali ramai diperbincangkan masyarakat, terutama di tengah meningkatnya konflik geopolitik dunia.
Sebagian orang bahkan mengaitkan situasi global tersebut dengan tanda-tanda kiamat dalam Islam, termasuk peristiwa Malhamah Kubra yang diyakini sebagai perang besar di akhir zaman.
Fenomena ini mendapat perhatian dari pengasuh LPD Al-Bahjah, Buya Yahya. Dalam salah satu kajiannya, ulama tersebut memberikan penjelasan agar umat Islam tidak terburu-buru menyimpulkan peristiwa dunia sebagai tanda kiamat tanpa landasan ilmu agama yang kuat.
Menurutnya, peperangan memang bisa terjadi kapan saja dalam sejarah manusia. Namun, memastikan sebuah peristiwa sebagai tanda kiamat besar memerlukan pemahaman agama yang mendalam dan tidak boleh hanya berdasarkan spekulasi.
Baca Juga: Lebaran Idul Fitri Tanggal 20 Atau 21 Maret 2026? Cek Jadwal versi Pemerintah dan Muhammadiyah
Jangan Terpaku pada Spekulasi Tanda Kiamat
Buya Yahya menyoroti kebiasaan sebagian masyarakat yang terlalu cepat menghubungkan situasi politik global dengan ayat-ayat Al-Quran. Ia mengingatkan bahwa penafsiran semacam itu berpotensi menyesatkan jika dilakukan tanpa keilmuan yang memadai.
"Tolong jangan menghubungkan kajian hari ini langsung pada ayat. Kalau menduga mungkin iya, tapi jangan dipastikan. Mengilmiah-ilmiahkan, menghubung-hubungkan tapi kita bukan ahlinya, itu bermasalah," ujar Buya Yahya dikutip Poskota dari channel YouTube Buya Yahya pada, 5 Maret 2026.
Ia menambahkan bahwa tanda-tanda kiamat besar seperti munculnya Imam Mahdi, Dajjal, hingga matahari terbit dari barat merupakan peristiwa dahsyat yang wajib diimani, bukan sesuatu yang justru diharapkan terjadi.
Baca Juga: Malam Lailatul Qadar dan Nuzulul Quran Apakah Sama? Tenyata Ini Faktanya
Damai di Rumah Lebih Utama daripada Memikirkan Perang Dunia
Dalam pesannya, Buya Yahya mengajak umat Islam untuk lebih fokus membangun kedamaian di lingkungan terdekat, terutama dalam keluarga. Ia menilai ada ironi ketika seseorang sibuk memikirkan konflik dunia, namun belum mampu menciptakan harmoni dalam kehidupan pribadi.
"Orang sibuk peduli dengan perang di sana, bagaimana mendamaikan peperangan di sana, bagus. Tapi damai dulu dong ente sama istri ente, sama suami ente, sama sepupu dan saudara," tegasnya.
Menurutnya, menjaga hubungan baik dalam keluarga dan masyarakat merupakan langkah nyata menciptakan perdamaian yang sesungguhnya.
Memahami Golongan yang Benar di Akhir Zaman
Buya Yahya juga menjelaskan hadis tentang perpecahan umat Islam menjadi 73 golongan di akhir zaman. Ia menekankan bahwa hadis tersebut seharusnya menjadi peringatan agar umat berhati-hati, bukan alat untuk menghakimi kelompok lain.
Golongan yang selamat disebut sebagai mereka yang mengikuti prinsip Ma Ana Alaihi wa Ashabi, yakni meneladani ajaran Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Keseimbangan dalam mencintai sahabat Nabi sekaligus menghormati ahli bait menjadi fondasi utama.
Untuk menjaga akidah dan pemahaman agama tetap lurus, ia menganjurkan umat Islam mengikuti jalur keilmuan ulama salafus saleh, antara lain:
- Dalam fikih, mengikuti mazhab yang jelas seperti Hanafi, Maliki, Syafi'i, atau Hambali.
- Dalam akidah, mengikuti manhaj Asy'ariyah dan Maturidiyah.
Baca Juga: Ciri-ciri Malam Lailatul Qadar yang Perlu Diketahui, Raih Keutamaannya
Larangan Merasa Paling Benar dalam Beragama
Di akhir kajiannya, Buya Yahya mengingatkan bahaya sikap merasa paling benar dalam beragama. Menurutnya, kebiasaan menilai kelompok lain sebagai penghuni neraka justru bertentangan dengan ajaran Nabi Muhammad SAW.
"Jangan kerjaannya ngurusi orang begitu, menjustifikasi kaum neraka apalagi dengan sombong hanya kelompok kita saja yang benar. Nabi pun tidak begitu," pungkas Buya Yahya.
Pesan tersebut menjadi pengingat agar umat Islam lebih mengedepankan sikap rendah hati, menjaga persatuan, serta memperkuat keimanan tanpa terjebak dalam spekulasi mengenai akhir zaman.
