Menariknya, di sela-sela kesibukan, Suwito juga menyempatkan diri berbuka puasa bersama para tahanan di sel. Baginya, para narapidana tetaplah manusia yang berhak merasakan suasana kebersamaan dan pembinaan rohani.
“Kalau ada kesempatan, kami berbuka puasa bersama dan tadarusan. Mereka juga manusia,” tambahnya.
Di balik ketegasan seragamnya, tersimpan sisi humanis yang jarang terekspos. Ramadan baginya bukan sekadar bulan pengabdian, tetapi juga momentum memperkuat nilai empati—baik kepada anggota, masyarakat, maupun para tahanan.
Baca Juga: Profil Lengkap Ria SW: Umur, Riwayat Kuliah dan Undangan Eksklusif ke Marapthon
Menutup perbincangan, Suwito mengimbau warga Tajurhalang untuk bersama-sama menjaga harkamtibmas, terutama mengawasi anak-anak agar tidak keluar rumah hingga larut malam.
“Total ada tujuh desa di wilayah hukum kami. Mari kita hidupkan peran Perpolisian Masyarakat (Polmas) agar keamanan lingkungan tetap terjaga,” pesannya.
Bagi Iptu Raden Suwito, Ramadan mungkin tak selalu diwarnai kebersamaan keluarga. Namun, di balik itu semua, ada dedikasi yang tak pernah putus—demi memastikan masyarakat bisa beribadah dengan rasa aman dan tenang.
