"Lalu biji kolang kaling yang sudah dipipihkan direndam dalam air selama dua hari hingga bersih dan teksturnya lebih kenyal," ujar Subrata.
Adapun untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, ia harus membeli buah aren dari warga sekitar. Namun, Subrata menyebut pasokan buah aren tahun ini sulit diperoleh karena belum masuk musim panen.
"Sekarang lagi susah, buahnya enggak ada, nyari ke mana-mana susah," katanya.
Baca Juga: Besaran Zakat Fitrah Tahun 2026 Berapa? Segini Ketentuan Baznaz untuk Wilayah Jabodetabek
Harga Bahan Baku Kolang-Kaling
Dari pengakuannya, harga bahan baku sendiri bervariasi mulai dari Rp100.000-Rp400.000 per batang, tergantung kualitas dan ketersediaan buahnya. Kondisi kelangkaan ini disebut berdampak langsung pada harga jual kolang-kaling di tingkat pengrajin.
"Ada yang Rp200.000 ada yang Rp400.000 per batang, bagaimana buahnya saja. Ada yang lebat dan juga yang biasa-biasa saja," ungkap Subrata.
Saat ini, harga kolang-kaling mencapai Rp12.000 per kilogram. Harga ini mengalami kenaikan, dimana pada tahun sebelumnya hanya berkisar Rp8.000-Rp9.000 per kilogram.
"Sekarang bahan bakunya lagi sulit jadi harganya juga naik. Biji kolang kaling yang siap saji itu bisa mencapai Rp12 ribu per kilo," ucap dia.
Baca Juga: Lautan Manusia dan Aroma Takjil, Benhil Jadi Magnet Kuliner Ramadhan di Jakarta
Jumlah produksi per harinya juga tidak menentu, dimana bergantung pada ketersediaan bahan baku serta tenaga bantuan dari anggota keluarga. Jika bahan melimpah dan tenaga cukup, produksi bisa meningkat. Namun ketika pasokan terbatas, hasil yang diperoleh pun berkurang.
"Kalau buahnya lagi banyak maka produksi kami juga banyak. Tapi kalau sekarang sedikit, tidak seperti tahun lalu," katanya.
Subrata menjelaskan, penjualan dilakukan dengan dua cara, yakni menunggu pembeli datang langsung ke rumah atau berkeliling menggunakan sepeda motor. Saat pasokan melimpah seperti tahun-tahun sebelumnya, Ia mampu mengirim kolang-kaling ke sejumlah kota besar seperti Jakarta dan Tangerang dan daerah lainnya.
