UAS menjelaskan bahwa puasa yang sempurna harus melibatkan seluruh anggota tubuh, bukan hanya perut. Setiap indera memiliki tanggung jawab untuk dijaga agar ibadah puasa tidak kehilangan nilai pahalanya.
Mulut harus dijaga dari gibah atau perkataan sia-sia yang dapat merusak pahala. Mata dan telinga juga perlu dikendalikan agar tidak melihat maupun mendengar hal yang dilarang. Selain itu, hati harus dibersihkan dari sifat dengki, iri, serta kesombongan.
Ia mengingatkan bahwa pahala puasa dapat berkurang bahkan hilang jika seseorang tetap melakukan gibah meski sedang berpuasa. "Jangan ajak ambo gibah dong... habis pahala puasa. Stop!" ujar beliau memberi amaran kepada jemaah agar tidak terjebak dalam perbualan kosong yang merosakkan ibadah.
Ramadhan Bukan Bulan Bermalas-malasan
Dalam kesempatan tersebut, UAS juga menyinggung anggapan keliru yang menganggap Ramadhan sebagai waktu untuk banyak tidur. Ia menegaskan bahwa bulan puasa justru menjadi momentum meningkatkan produktivitas dan semangat ibadah.
Menurutnya, sejarah Islam mencatat berbagai peristiwa besar yang terjadi pada bulan Ramadhan, salah satunya Perang Badar, yang menunjukkan bahwa umat Islam tetap aktif dan berjuang meski sedang berpuasa. "Bulan puasa bukan bulan tidur-tiduran, bukan bulan bermalas-malasan. Bulan puasa adalah bulan jihad, bulan melawan hawa nafsu," kata UAS.
Baca Juga: 10 Ide Bisnis Ramadhan 2026 Minim Pesaing dengan Keuntungan Menjanjikan
Menghidupkan Kepedulian Sosial di Bulan Puasa
Selain pengendalian diri, UAS juga menekankan pentingnya meningkatkan kepedulian sosial selama Ramadhan. Salah satu amalan yang dianjurkan adalah berbagi makanan berbuka puasa kepada orang lain.
Ia mengajak umat Islam memperbanyak sedekah serta mempererat hubungan sosial dengan tetangga dan masyarakat sekitar, sebagaimana ajaran Nabi Muhammad SAW yang menganjurkan memperbanyak kuah masakan agar dapat dibagikan kepada sesama.
Melalui pemahaman makna puasa yang lebih mendalam, diharapkan umat Islam tidak hanya memperoleh lapar dan dahaga semata, tetapi juga mampu meraih derajat takwa, memperbaiki akhlak, serta meningkatkan integritas diri sepanjang bulan Ramadhan.
