Kronologi Lengkap Dugaan Pelecehan Casting Film Thriller: Pengakuan Korban Minor Ungkap Modus Sutradara

Senin 23 Feb 2026, 20:33 WIB
Dugaan kasus pelecehan seksual yang melibatkan oknum sutradara dalam proses casting film bergenre thriller. (Sumber: Freepik)

Dugaan kasus pelecehan seksual yang melibatkan oknum sutradara dalam proses casting film bergenre thriller. (Sumber: Freepik)

POSKOTA.CO.ID - Dugaan kasus pelecehan seksual yang melibatkan oknum sutradara dalam proses casting film bergenre thriller menjadi sorotan publik setelah pengakuan korban beredar luas di media sosial.

Kasus ini pertama kali mencuat setelah akun X bernama @adnazraa membagikan kronologi yang dialaminya pada Minggu, 22 Februari 2026.

Pemilik akun tersebut, seorang perempuan bernama Adine, mengaku sebagai korban pelecehan dan manipulasi yang dilakukan oleh seorang sutradara.

Dalam unggahannya, Adine menegaskan, dirinya masih di bawah umur saat peristiwa itu terjadi. Ia juga menyebut, terdapat korban lain dengan pola perlakuan serupa.

“aku MINOR, salah satu korban pelecehan dan manipulasi seorang sutradara. ada 3 lebih talent dic4buli, mostly anak kecil,” tulis Adine.

Pengakuan ini sontak memicu perhatian warganet, terlebih karena kasus tersebut diduga melibatkan anak-anak dan remaja dalam proses audisi film.

Kronologi lengkap dugaan pelecehan casting film thriller (Sumber: X/@adnazraa)

Kronologi Pelecehan Casting Film Thriller

Adine mengungkapkan, awal mula kejadian bermula ketika ia tertarik mengikuti casting film thriller yang membuka peluang bagi pemeran dewasa usia 17–25 tahun serta pemeran anak-anak berusia 7–15 tahun.

Pihaknya kemudian menghubungi nomor kontak yang tercantum dalam pengumuman tersebut, dengan asumsi nomor tersebut merupakan milik tim casting resmi.

“Ternyata nomor yg aku chat itu nomor sutradara (terduga pelaku), bukan casting team,” tulis Adine.

Sejak komunikasi awal itulah, korban mulai merasakan kejanggalan dalam interaksi yang terjalin.

Sebelum proses casting dilakukan secara langsung, Adine mengaku menerima kiriman foto pribadinya dari unggahan Instagram lama.

Foto tersebut menampilkan dirinya saat berada di pantai dengan mengenakan pakaian renang.

"Gak lama setelah apply, dia ngundang aku untuk casting secara offline. tiba-tiba dia mengirim foto sekali lihat, foto yg aku upload di ig sedang di pantai menggunakan tankini, jujur menurutku itu agak janggal?" lanjut Adine.

Meski merasa tidak nyaman, korban tetap melanjutkan proses casting karena ingin mendapatkan pengalaman di dunia perfilman.

Adine akhirnya menghadiri proses casting secara tatap muka. Di lokasi, ia mengaku mendapatkan perlakuan yang tampak profesional.

Fasilitas yang disediakan dinilai meyakinkan, mulai dari ruang VIP hingga konsumsi yang layak.

Kondisi tersebut sempat menghapus kecurigaan korban. Ia menilai bahwa pihak penyelenggara casting bukanlah pihak abal-abal, sehingga merasa aman untuk mengikuti proses lanjutan.

Berdasarkan riwayat percakapan yang kemudian diungkap, peristiwa ini disinyalir mulai terjadi sejak 30 Januari 2026.

Empat hari setelah casting, pelaku mengabarkan bahwa Adine dinyatakan lolos seleksi.

Namun, terdapat syarat tambahan berupa adegan sensual yang harus dilakukan. Adine mengaku langsung menyampaikan keberatan dan menetapkan batasan yang jelas.

“chat sudah dia hapus, tapi untungnya aku punya bukti, aku sempet cerita ke temen aku (korban juga),” tulis Adine.

Meski sudah menolak, komunikasi terus berlanjut dengan tekanan yang semakin intens.

Baca Juga: Link Video Chindo Adidas Viral di TikTok, Apa Isinya? Ini Penjelasan Lengkap dan Fakta Terbarunya

Permintaan Foto dan Dugaan Manipulasi

Pelaku kemudian meminta Adine mengirimkan foto dengan pose seolah sedang “disiksa” menggunakan gaun putih.

Ketika korban menyampaikan, ia tidak memiliki pakaian tersebut, pelaku disebut menawarkan untuk membelikannya, sembari menanyakan ukuran pakaian dalam korban.

“Dia minta aku pake dress putih, aku sempet ngeles aku gak punya, tpi dia nekat malah mau beliin aku. dia juga nanya ukuran bra yg dmn itu privasi perempuan,” tulis Adine.

Merasa terdesak, Adine akhirnya mengirimkan foto dengan sejumlah syarat ketat.

Keputusan tersebut dia sesali karena merasa telah terjebak dalam manipulasi halus.

“Aku ga nyaman, posisi saat itu juga aku belum terikat kontrak. dia terus meminta seakan maksa secara halus. bodohnya aku saat itu aku luluh, aku nyesel entah apa yang ada dipikiran saat itu. aku kirim dengan syarat aku gak mau ada muka aku dan aku gak mau vulg4r. dan jwbn dia (emoji muntah),” tulis Adine.

Tak berhenti di situ, pelaku juga mewajibkan komunikasi rutin dengan dalih membangun chemistry.

Dia juga meminta korban mengubah cara berkomunikasi dan menghindari sapaan formal.

“dia juga meminta aku untuk chat rutin, dengan alasan untuk “BANGUN CHEMISTRY”. dia request untuk manggil aku kamu, dia melarang aku manggil dia “kak”. dia juga mengancam halus kalo talent yg ga mau ga bakal dia pilih, terkesan sombong,” tulis Adine.

Korban mengaku, tekanan tersebut membuatnya berada dalam posisi sulit sebagai talenta muda.

Meski Adine sempat menjauh, pelaku kembali menghubunginya untuk membahas kontrak kerja.

Diskusi tersebut sempat melibatkan orang tua korban yang secara tegas menolak adanya sentuhan pada area sensitif.

Namun, setelah pembicaraan berakhir, pelaku justru mengirimkan pesan lanjutan yang merinci bayaran untuk setiap bagian tubuh yang boleh disentuh.

“setelah telfon mati, dia balik menawarkan hal yg sebenernya sudah jelas. dia menghargai badanku dengan uang, cium ketiak 500rb, cium pipi 250rb, cium leher 250rb, pegang paha dll,” tulis Adine.

Merasa semakin tertekan, Adine akhirnya memilih tidak lagi merespons pesan-pesan tersebut.

Dengan dukungan penuh dari orang tuanya, Adine memutuskan mundur sepenuhnya dari proyek film tersebut.

Ia kemudian memilih untuk membeberkan pengalamannya ke publik sebagai bentuk peringatan bagi talenta lain, khususnya anak-anak dan remaja.

Pengakuan tersebut memantik diskusi luas mengenai keamanan proses casting di industri kreatif.

Baca Juga: Siapa Gilcan Ambon? Link Video 54 Detik Sprei Hijau Jadi Saksi, Picu Perburuan Versi Lengkap

Bantahan dari Erzalul Octa Azis

Di sisi lain, Erzalul Octa Azis atau yang akrab disapa Erza membantah seluruh tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Ia menegaskan bahwa seluruh proses komunikasi dilakukan secara terbuka dan telah disampaikan sejak awal.

"Nah ini chat terakhir saya, bahwa dia tidak bermasalah asalkan adegan-adegan yang lain itu tidak ditampilkan karena dia masih cukup muda untuk memerankan adegan itu. Dan kita nggak masalah gitu ya, dia hanya... dia sudah sepakat nih. Nah ini buktinya," ucap Erza.

Ia juga menyebut bahwa dalam proses komunikasi dengan talenta, orang tua korban turut mendampingi.

"Ya, ini chatan terakhir, dan pada saat kita teleponan itu ada orang tuanya di samping. Itu kita lagi deal-deal-an tuh. Ya, saya tahu ada orang tuanya. 'Kamu bersedia dipegang di area mana saja? Mana yang sensitif, mana yang nggak mau?' gitu ya," jelasnya.

Hingga kini, kasus tersebut masih menjadi perhatian publik dan menunggu kejelasan lebih lanjut dari pihak berwenang terkait kebenaran tudingan maupun bantahan yang disampaikan.


Berita Terkait


News Update