Pelaku kemudian meminta Adine mengirimkan foto dengan pose seolah sedang “disiksa” menggunakan gaun putih.
Ketika korban menyampaikan, ia tidak memiliki pakaian tersebut, pelaku disebut menawarkan untuk membelikannya, sembari menanyakan ukuran pakaian dalam korban.
“Dia minta aku pake dress putih, aku sempet ngeles aku gak punya, tpi dia nekat malah mau beliin aku. dia juga nanya ukuran bra yg dmn itu privasi perempuan,” tulis Adine.
Merasa terdesak, Adine akhirnya mengirimkan foto dengan sejumlah syarat ketat.
Keputusan tersebut dia sesali karena merasa telah terjebak dalam manipulasi halus.
“Aku ga nyaman, posisi saat itu juga aku belum terikat kontrak. dia terus meminta seakan maksa secara halus. bodohnya aku saat itu aku luluh, aku nyesel entah apa yang ada dipikiran saat itu. aku kirim dengan syarat aku gak mau ada muka aku dan aku gak mau vulg4r. dan jwbn dia (emoji muntah),” tulis Adine.
Tak berhenti di situ, pelaku juga mewajibkan komunikasi rutin dengan dalih membangun chemistry.
Dia juga meminta korban mengubah cara berkomunikasi dan menghindari sapaan formal.
“dia juga meminta aku untuk chat rutin, dengan alasan untuk “BANGUN CHEMISTRY”. dia request untuk manggil aku kamu, dia melarang aku manggil dia “kak”. dia juga mengancam halus kalo talent yg ga mau ga bakal dia pilih, terkesan sombong,” tulis Adine.
Korban mengaku, tekanan tersebut membuatnya berada dalam posisi sulit sebagai talenta muda.
Meski Adine sempat menjauh, pelaku kembali menghubunginya untuk membahas kontrak kerja.
Diskusi tersebut sempat melibatkan orang tua korban yang secara tegas menolak adanya sentuhan pada area sensitif.
