Menurutnya, meski tenaga terkuras karena jam kerja lebih panjang, kebersamaan dengan pembeli membuat rasa lelah terbayar. Ia berharap kondisi ini terus bertahan hingga akhir Ramadhan.
"Alhamdulillah pengurus Istiqlal memperhatikan para pelaku UMKM, jadi saya bisa kerja di sini, bisa buat lebaran," kelakarnya.
Sementara itu, seorang pengunjung bernama Rama hendak mencicipi kuliner di Pasar Ramadhan yang selalu membuatnya rindu bulan suci. Selain pilihan makanan yang lengkap, ia menilai harga yang ditawarkan masih bersahabat.
“Setiap Ramadhan saya pasti menyempatkan datang ke sini bersama keluarga. Selain bisa ngabuburit, suasananya hangat dan terasa sekali kebersamaannya,” katanya.
Menurut Rama, keberadaan Pasar Ramadhan di lingkungan Masjid Istiqlal membawa manfaat bagi para pelaku usaha kecil. Pasalnya, ragam menu yang ditawarkan menjadi ajang promosi efektif bagi produk UMKM.
Baca Juga: Antisipasi Tawuran Saat Ramadhan, Polisi Bubarkan Remaja Nongkrong sampai Dini Hari di Depok
Ia berharap masjid-masjid besar lainnya di Jakarta dapat menghadirkan Pasar Ramadhan serupa seperti yang digelar di Istiqlal.
DPR minta UMKM Dilindungi dan Diserap Pasar
Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena menegaskan, pelaku Usaha UMKM tidak cukup hanya dibina dan diberi pelatihan. Ia menilai, tanpa perlindungan serta jaminan penyerapan pasar, peran UMKM sebagai tulang punggung ekonomi nasional hanya akan menjadi slogan.
Apalagi, kualitas dan kreativitas produk UMKM Indonesia terus meningkat berkat pendampingan kementerian dan berbagai program pembinaan. Namun, persoalan mendasar justru muncul setelah kualitas membaik, yakni soal akses dan kepastian pasar bagi produk mereka.
“UMKM ini disebut tulang punggung. Tapi kalau tulang punggung ini tidak dipelihara, tidak diberi ruang, dan tidak diserap, percuma hanya bicara," ucap Politikus PDIP tersebut.
Samuel menyoroti tantangan berat yang dihadapi pelaku UMKM ketika bersaing dengan produk impor yang lebih murah dan diproduksi secara massal. Dalam kondisi tersebut, ia menilai UMKM dalam negeri akan kesulitan jika dilepas sepenuhnya pada mekanisme pasar bebas.
“Secara harga mereka jauh di bawah, secara masifnya produksi kita kalah. Kalau dilepas begitu saja, UMKM kita berat,” tuturnya.
