"Dengan kata-kata yang jauh lebih tajam daripada pidato mana pun yang pernah dilontarkan oleh para pemimpin dan para penjilat yang bersorak di panggung politik yang penuh dusta! Betapa bising nya negeri ini, ketika mulut-mulut penuh janji tidak pernah mendengar anak kecil yang hanya meminta kesempatan hidup," tuturnya tajam.
"Di bawah pohon cengkeh itu menjadi saksi bisu. Kita membaca ironi bangsa sendiri, bahwa kadang, yang mati bukan hanya seorang anak, tapi juga nurani kita," ujarnya lagi.
Di bagian akhir, Deddy menyampaikan duka mendalam kepada ibu korban. Ia pun memohon maaf karena merasa belum mampu berbuat sesuatu untuk mencegah tragedi itu terjadi.
Baginya, di tanah Jerebuu kini tersisa jejak kaki kecil yang tak sempat menuntut haknya untuk hidup lebih baik, sementara seorang ibu harus menerima kenyataan pahit kehilangan dunianya.
"Di Jerebuu, NTT. Di mana bumi masih menyimpan jejak sepasang kaki kecil yang tak sempat menuntut hak yang tak pernah didengar. Dan langit entah bagaimana. Tak lagi biru bagi seorang mama yang kehilangan dunia dalam selembar surat. Maafkan kami, Nak. Maafkan ketidakberdayaan kami untuk menolongmu," ujarnya mengakhiri syair dengan tangis.
