POSKOTA.CO.ID - Tradisi nyekar atau ziarah kubur merupakan salah satu praktik budaya dan keagamaan yang telah mengakar kuat di berbagai daerah di Indonesia. Menjelang bulan Ramadan, aktivitas ini semakin sering dilakukan masyarakat sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan kerabat yang telah meninggal.
Di sejumlah wilayah, tradisi ini memiliki istilah yang berbeda, seperti nyadran, arwahan, atau munggahan, namun esensinya tetap sama: mendoakan dan mengenang mereka yang telah tiada.
Melansir dari berbagai sumber, tradisi nyekar bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga bentuk penguatan nilai-nilai sosial, spiritual, dan emosional dalam kehidupan masyarakat.
Baca Juga: Cek Besaran Zakat Fitrah dan Fidiah Ramadan 1447 H, Ini Ketetapan Baznas
Makna Nyekar dalam Perspektif Budaya dan Sejarah
1. Tradisi yang Menjaga Identitas Budaya
Nyekar telah dilakukan turun-temurun sejak masa nenek moyang. Tradisi ini menjadi simbol penghormatan terhadap jasa dan kebaikan para leluhur, sekaligus memperkokoh identitas budaya masyarakat Indonesia.
Dalam kegiatan nyadran, misalnya, masyarakat tidak hanya membersihkan makam, tetapi juga berkumpul, berdoa bersama, dan berbagi makanan sebagai wujud kebersamaan.
2. Ungkapan Kasih Sayang dan Penghormatan
Ziarah kubur menjelang Ramadan juga menjadi simbol cinta dan hormat kepada orang yang telah berpulang. Aktivitas menabur bunga, membacakan doa, dan membersihkan makam dianggap sebagai bentuk ucapan terima kasih sekaligus penghormatan yang tulus.
Seorang psikolog keluarga menjelaskan, “Ungkapan kasih sayang tidak selalu berhenti meski seseorang telah tiada. Melalui ziarah, seseorang dapat mengekspresikan rasa kehilangan sekaligus rasa sayang secara lebih jernih dan dewasa.”
Manfaat Psikologis dari Tradisi Nyekar
1. Menjaga Ikatan Emosional dengan Mendiang
Melalui nyekar, seseorang dapat memusatkan kembali perhatian pada kenangan bersama kerabat yang telah meninggal. Kenangan tersebut dapat menjadi sumber kekuatan emosional, terutama ketika menghadapi masa-masa sulit.
Kegiatan ini juga membantu keluarga mengingat nilai-nilai hidup, nasihat, dan pelajaran yang pernah disampaikan mendiang. Dengan demikian, hubungan emosional tetap terjaga meski secara fisik telah berjarak.
2. Menguatkan Ikatan Keluarga
Ziarah kubur sering dilakukan secara bersama-sama oleh anggota keluarga. Setiap individu membawa kenangannya sendiri, lalu menceritakannya saat berziarah. Aktivitas ini mampu membangun kedekatan dan memperkuat solidaritas keluarga.
Tak jarang, momen ziarah menjadi kesempatan mengobrol, bercanda, dan merayakan kebersamaan dalam suasana yang lebih tenang. Ini menjadi ruang intim yang jarang didapat dalam kesibukan sehari-hari.
3. Refleksi Makna Kehidupan dan Kematian
Banyak orang merasakan bahwa berziarah membuat mereka lebih memahami arti kehidupan. Realita tentang kematian mengingatkan bahwa waktu hidup bersifat sementara dan harus dimanfaatkan dengan baik.
Momen ini menghadirkan pertanyaan mendalam: Apa yang telah saya lakukan selama hidup? Apakah saya sudah berbuat baik kepada orang-orang di sekitar saya? Pertanyaan-pertanyaan reflektif ini sangat membantu pembentukan karakter dan kesehatan mental seseorang.
4. Menghadirkan Rasa Tenang dan Kedamaian
Suasana pemakaman yang hening dan personal membuat seseorang lebih mudah masuk ke kondisi emosional yang tenang. Banyak yang merasakan kelegaan batin setelah berdoa dan merenung di makam keluarga.
5. Meningkatkan Religiusitas
Nyekar menjelang Ramadan juga meningkatkan sisi religius seseorang. Doa yang dipanjatkan, harapan yang dihaturkan, serta kesadaran akan kefanaan manusia membuat seseorang semakin dekat dengan Tuhan.
Dalam ajaran agama, ziarah kubur juga memiliki nilai ibadah yang dapat membawa kebaikan bagi yang menjalankannya.
Baca Juga: Kapan 1 Ramadhan 1447 H? Ini Perhitungan Kalender Hijriah Februari 2026 yang Perlu Kamu Tahu
Nyekar sebagai Tradisi Menyambut Ramadan
Di banyak daerah, tradisi ini dilakukan sebelum puasa Ramadan sebagai bentuk penyucian hati. Dengan berziarah, masyarakat berharap dapat memasuki bulan suci dengan hati bersih dan penuh ketenangan.
Nyekar juga menjadi simbol doa agar mendiang turut “disertakan” dalam keberkahan bulan Ramadan melalui pahala doa yang dikirimkan oleh keluarga yang masih hidup.
Tradisi nyekar merupakan bagian integral dari warisan budaya dan spiritual masyarakat Indonesia. Selain mempertahankan nilai historis dan religius, nyekar juga berfungsi sebagai penguat ikatan sosial dalam keluarga maupun masyarakat.
Melestarikannya berarti menjaga keseimbangan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dengan mengenang dan mendoakan mereka yang telah tiada, masyarakat memperkuat akar budaya sekaligus memupuk nilai kemanusiaan.
