Mengapa Umat Islam Nyekar Menjelang Ramadhan? Berikut Manfaat dan Hikmahnya

Jumat 06 Feb 2026, 17:31 WIB
Ilustrasi tempat pemakaman (Sumber: Pinterest/@Hening)

Ilustrasi tempat pemakaman (Sumber: Pinterest/@Hening)

POSKOTA.CO.ID - Tradisi nyekar atau ziarah kubur merupakan salah satu praktik budaya dan keagamaan yang telah mengakar kuat di berbagai daerah di Indonesia. Menjelang bulan Ramadan, aktivitas ini semakin sering dilakukan masyarakat sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan kerabat yang telah meninggal.

Di sejumlah wilayah, tradisi ini memiliki istilah yang berbeda, seperti nyadran, arwahan, atau munggahan, namun esensinya tetap sama: mendoakan dan mengenang mereka yang telah tiada.

Melansir dari berbagai sumber, tradisi nyekar bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga bentuk penguatan nilai-nilai sosial, spiritual, dan emosional dalam kehidupan masyarakat.

Baca Juga: Cek Besaran Zakat Fitrah dan Fidiah Ramadan 1447 H, Ini Ketetapan Baznas

Makna Nyekar dalam Perspektif Budaya dan Sejarah

1. Tradisi yang Menjaga Identitas Budaya

Nyekar telah dilakukan turun-temurun sejak masa nenek moyang. Tradisi ini menjadi simbol penghormatan terhadap jasa dan kebaikan para leluhur, sekaligus memperkokoh identitas budaya masyarakat Indonesia.

Dalam kegiatan nyadran, misalnya, masyarakat tidak hanya membersihkan makam, tetapi juga berkumpul, berdoa bersama, dan berbagi makanan sebagai wujud kebersamaan.

2. Ungkapan Kasih Sayang dan Penghormatan

Ziarah kubur menjelang Ramadan juga menjadi simbol cinta dan hormat kepada orang yang telah berpulang. Aktivitas menabur bunga, membacakan doa, dan membersihkan makam dianggap sebagai bentuk ucapan terima kasih sekaligus penghormatan yang tulus.

Seorang psikolog keluarga menjelaskan, “Ungkapan kasih sayang tidak selalu berhenti meski seseorang telah tiada. Melalui ziarah, seseorang dapat mengekspresikan rasa kehilangan sekaligus rasa sayang secara lebih jernih dan dewasa.”

Manfaat Psikologis dari Tradisi Nyekar

1. Menjaga Ikatan Emosional dengan Mendiang

Melalui nyekar, seseorang dapat memusatkan kembali perhatian pada kenangan bersama kerabat yang telah meninggal. Kenangan tersebut dapat menjadi sumber kekuatan emosional, terutama ketika menghadapi masa-masa sulit.

Kegiatan ini juga membantu keluarga mengingat nilai-nilai hidup, nasihat, dan pelajaran yang pernah disampaikan mendiang. Dengan demikian, hubungan emosional tetap terjaga meski secara fisik telah berjarak.

2. Menguatkan Ikatan Keluarga

Ziarah kubur sering dilakukan secara bersama-sama oleh anggota keluarga. Setiap individu membawa kenangannya sendiri, lalu menceritakannya saat berziarah. Aktivitas ini mampu membangun kedekatan dan memperkuat solidaritas keluarga.


Berita Terkait


News Update