Bukan Soal Harga, Ini Alasan Permintaan Mobil Premium di Indonesia Tetap Kuat

Rabu 04 Feb 2026, 18:50 WIB
Mercedes-Benz Indonesia menggelar acara 140 tahun yang bertajuk 'Mercedes-Benz 140 Years of Innovation' di World Beyond by Mercedes-Benz Thamrin Nine, Jakarta, pada 3 Februari 2026. (Sumber: Mercedes-Benz Indonesia)

Mercedes-Benz Indonesia menggelar acara 140 tahun yang bertajuk 'Mercedes-Benz 140 Years of Innovation' di World Beyond by Mercedes-Benz Thamrin Nine, Jakarta, pada 3 Februari 2026. (Sumber: Mercedes-Benz Indonesia)

POSKOTA.CO.ID - Pasar mobil premium di Indonesia menunjukkan tanda-tanda pemulihan seiring optimisme industri otomotif yang diproyeksikan membaik pada 2026.

Meski sempat tertahan akibat kondisi ekonomi yang belum stabil, minat konsumen di segmen kendaraan mewah dinilai mulai kembali menguat, terutama didorong oleh faktor non-fungsional seperti kekuatan merek dan ikatan emosional.

Chief Executive Officer Mercedes-Benz Indonesia, Donald Rachmat dalam acara 140 tahun inovasi Mercedes-Benz yang bertajuk 'Mercedes-Benz 140 Years of Innovation', menyebutkan ikatan emosional jadi hal penting dalam segmen mobil-mobil premium.

"Kalau saya selalu melihat dari sudut pandang supply dan demand dimana interest terhadap mobil-mobil premium ini kan sifatnya bukan hanya fungsional tetapi juga ada emotional connection." Katanya, di World Beyond by Mercedes-Benz Thamrin Nine, Jakarta pada Selasa, 3 Februari 2026.

Baca Juga: Mercedes-Benz Rayakan 140 Tahun Inovasi Sejak Ciptakan Mobil Pertama di Dunia

Demand Mobil Premium Libatkan Ikatan Emosional

Donald Rachmat, Chief Executive Officer Mercedes-Benz Indonesia dalam acara yang bertajukn'Mercedes-Benz 140 Years of Innovation' di World Beyond by Mercedes-Benz Thamrin Nine, Jakarta. (Sumber: Mercedes-Benz Indonesia)

Berbeda dengan segmen mass market (pasar massal), permintaan mobil premium memiliki karakter unik. Keputusan pembelian tidak semata didasarkan pada kebutuhan transportasi, tetapi juga pada aspek emosional, kebanggaan, serta relasi konsumen dengan merek.

"Kita bicara mengenai brand. Brand ini kan ada hubungan emosional antara konsumen dengan merek, dengan kendaraan." Katanya.

Brand premium seperti Mercedes-Benz, misalnya, dinilai memiliki ikatan emosional yang kuat dengan konsumennya. Ketika koneksi emosional itu sudah terbentuk, faktor ekonomi cenderung tidak menjadi penghalang utama. Konsumen di segmen ini kerap mengambil keputusan berdasarkan kecintaan terhadap merek, sejarah, dan pengalaman berkendara.

"Mercedes-Benz itu adalah merek-merek premium yang memiliki ikatan emosional yang sangat kuat antara pengguna, pemilik dan juga kendaraan. keinginan itu sudah ada kecintaan terhadap merek itu ada dan basically customer akan membeli berdasarkan emosional factor." Ucapnya.

Kondisi inilah yang membuat permintaan mobil premium relatif lebih resilien. Penundaan pembelian bisa terjadi, tetapi keinginan memiliki kendaraan tetap ada dan dapat kembali muncul saat momentum dirasa tepat.

Baca Juga: Harga Mobil Listrik Februari 2026 Bergeser, Ada yang Naik Rp100 Juta Lebih

Supply Disesuaikan dengan Karakter Konsumen


Berita Terkait


News Update