Bicara Perdamaian Global, Rocky Gerung Kritik Pemerintah soal Anak Sekolah Kesulitan Beli Alat Tulis di NTT

Rabu 04 Feb 2026, 15:57 WIB
Kritik Rocky Gerung dalam kanal Youtubenya soal anak SD Bunuh Diri di NTT. (Sumber: Youtube/@Rocky Gerung Official)

Kritik Rocky Gerung dalam kanal Youtubenya soal anak SD Bunuh Diri di NTT. (Sumber: Youtube/@Rocky Gerung Official)

Menurutnya, keberhasilan ekonomi atau prestasi pembangunan tidak dapat diklaim jika negara gagal menyediakan sarana pendidikan paling dasar bagi anak-anak.

Pertumbuhan Ekonomi Tak Selaras dengan Realita Lapangan

Dalam kritiknya, Rocky juga menyinggung narasi besar pemerintah mengenai pertumbuhan ekonomi, proyek strategis nasional (PSN), hilirisasi, hingga pembangunan perumahan rakyat. Menurutnya, semua ini kehilangan relevansi ketika kebutuhan paling elementer seorang anak sekolah pena dan buku tidak terpenuhi.

“Pidato yang berapi-api, janji mengejar koruptor, narasi kebesaran bangsa, bahkan klaim hidup di negara paling bahagia semua itu gugur oleh fakta-fakta kecil yang diabaikan,” ujarnya.

Rocky menegaskan bahwa justru hal-hal kecil inilah yang menciptakan retakan psikologis masyarakat dan menggerus rasa keadilan sosial.

Ironi Board of Peace dan Prioritas Anggaran Negara

Kritik Rocky semakin menguat ketika menyinggung kebijakan pemerintah bergabung dalam Board of Peace, sebuah lembaga yang dibentuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan biaya iuran sekitar Rp16,7 triliun.

“Kenapa Pak Prabowo nyumbang ke lembaga yang dibuat dan diarahkan sendiri oleh Donald Trump? Kenapa Rp16 triliun itu harus disumbangkan ke sana?” ucap Rocky dalam acara Inaugurasi 2025 Universitas Sangga Buana YPKP, Bandung, Kamis, 29 Januari 2026.

Bagi Rocky, keputusan tersebut menjadi ironi besar. Di satu sisi, pemerintah mengeluarkan dana besar untuk urusan internasional; di sisi lain, seorang anak di pelosok negeri tak mampu membeli alat tulis sekolah.

Baca Juga: Thomas Djiwandono Resmi Jadi Deputi Gubernur BI, Apa Saja Tanggung Jawabnya?

Dalam tragedi tersebut, korban dilaporkan meninggalkan surat kecil berisi permintaan maaf dan pesan agar sang ibu tidak bersedih. Rocky menilai pesan tersebut menunjukkan kedewasaan emosional yang seharusnya tidak dipikul oleh anak berusia 10 tahun.

“Dia memahami kondisi psikologi ibunya. Dia memahami jalan hidup yang sudah ditempuh oleh ibunya,” ungkap Rocky.

Sang ibu diketahui membesarkan lima anak dengan kondisi ekonomi berat dan latar belakang tiga kali perceraian. Situasi itu diduga memperberat tekanan psikologis korban.

Korban berinisial YBS, siswa kelas IV SD, dilaporkan merasa putus asa setelah ibunya, MGT (47), tidak mampu memberikan uang kurang dari Rp10.000 untuk membeli buku dan pena. Uang tersebut merupakan kebutuhan untuk mengikuti kegiatan belajar di sekolah.


Berita Terkait


News Update