Kenapa Ramadan 2026 Versi Muhammadiyah Dimulai 18 Februari? Simak Penjelasannya

Jumat 30 Jan 2026, 10:36 WIB
Ilustrasi. Datangnya bulan suci Ramadan 2026 (Sumber: Freepik/jcomp)

Ilustrasi. Datangnya bulan suci Ramadan 2026 (Sumber: Freepik/jcomp)

POSKOTA.CO.ID - Penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah pada Rabu, 18 Februari 2026, oleh Muhammadiyah bukanlah keputusan tanpa dasar.

Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Rahmadi Wibowo, memaparkan penjelasan ilmiah dan metodologis terkait keputusan tersebut dalam Pengajian Tarjih pada Rabu, 28 Januari 2026.

Dilansir dari laman resmi muhammadiyah.or.id pada Jumat, 30 Januari 2026.

Penentuan tersebut menggunakan sistem Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), sebuah pendekatan penanggalan Islam yang menekankan keseragaman tanggal secara global.

Baca Juga: Puasa Ayyamul Bidh Apakah Harus 3 Hari? Simak Hukum, Jadwal, dan Bacaan Niatnya

Prinsip Kesatuan Hari dan Tanggal Global

Ilustrasi. Pemantauan rukyatul hilal menggunakan alat ukur khusus. (Sumber: Poskota/Bilal Nugraha Ginanjar)

Rahmadi menjelaskan, KHGT dibangun atas prinsip one day, one date globally, yakni kesamaan hari dan tanggal di seluruh dunia.

Prinsip ini hanya bisa terwujud apabila bumi dipandang sebagai satu kesatuan matla’, tanpa pembagian zona penanggalan regional, serta tetap mengikuti garis tanggal internasional.

Menurutnya, pembagian zona justru akan menimbulkan perbedaan hari dan tanggal antarwilayah. “Wilayah barat bisa lebih dulu masuk tanggal baru, sementara kawasan timur belum,” ujarnya.

Hisab Jadi Dasar, Rukyah Bersifat Konfirmatif

Dalam konteks metodologi, Rahmadi menegaskan bahwa penyusunan kalender jangka panjang hanya memungkinkan melalui hisab atau perhitungan astronomi.

Baca Juga: Kapan Libur Puasa Ramadan 2026? Ini Jadwal Libur Sekolah dan Tanggal Merahnya

Sementara rukyah berfungsi sebagai verifikasi jangka pendek dan tidak dapat dijadikan dasar penyusunan kalender tahunan.

Karena itu, KHGT menggunakan prinsip ittihadul mathali’ global, bukan kriteria lokal sebagaimana lazim diterapkan dalam penentuan awal bulan di tingkat nasional.

Parameter Astronomis Penentuan Awal Bulan

Berdasarkan keputusan Majelis Tarjih, seluruh daratan bumi dipandang sebagai satu kesatuan.

Awal bulan ditetapkan apabila sebelum pukul 24.00 GMT terdapat wilayah daratan yang memenuhi dua syarat utama, yakni elongasi bulan-matahari minimal 8 derajat dan ketinggian hilal minimal 5 derajat saat matahari terbenam.

Jika syarat tersebut belum terpenuhi, KHGT menerapkan parameter lanjutan.

Pertama, konjungsi bulan harus terjadi di Selandia Baru sebelum waktu fajar, mengingat wilayah ini termasuk kawasan berpenduduk paling awal memulai hari.

Baca Juga: Menjelang Ramadan 2026, Ini 3 Amalan Penting untuk Menyempurnakan Ibadah Puasa

Kedua, pada saat yang sama, syarat elongasi dan ketinggian hilal harus terpenuhi di daratan benua Amerika sebagai penanda akhir siklus 24 jam global.

Hasil Hisab Awal Ramadan 2026

Berdasarkan hasil hisab, konjungsi bulan terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 12:01:09 GMT. Namun hingga batas pukul 24.00 GMT, tidak ada wilayah yang secara langsung memenuhi dua syarat utama tersebut.

Oleh sebab itu, Majelis Tarjih menggunakan parameter lanjutan. Di Selandia Baru, yang pada Februari menggunakan waktu musim panas (UTC+13), konjungsi terjadi sekitar pukul 01.00 dini hari waktu setempat, sebelum fajar.

Selanjutnya, di benua Amerika, wilayah Bethel, Alaska, menunjukkan elongasi bulan telah melampaui 8 derajat dan ketinggian hilal melebihi 5 derajat.

“Walaupun wilayahnya kecil dan penduduknya sedikit, tetap sah karena yang dijadikan acuan adalah daratan, bukan jumlah populasi,” tegas Rahmadi.

Baca Juga: Zakat Fitrah Harus Berupa Apa? Simak Penjelasan Lengkapnya Menjelang Idulfitri

Hilal di Indonesia Bukan Penentu

Rahmadi juga menegaskan bahwa dalam sistem KHGT, terlihat atau tidaknya hilal di Indonesia tidak menjadi faktor penentu.

Data menunjukkan hilal di Indonesia, Makkah, dan Turki masih berada di bawah ufuk saat itu.

Namun karena KHGT menganut prinsip kesatuan matla’, terpenuhinya parameter di satu wilayah dunia berlaku secara global.

“Jika masih menggunakan wujudul hilal lokal, Indonesia memang akan memulai Ramadan pada 19 Februari. Tetapi dengan KHGT, keterpenuhan parameter di Alaska ditransfer secara global,” jelasnya.

Berdasarkan seluruh rangkaian perhitungan tersebut, Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah secara resmi menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.


Berita Terkait


News Update