Riset Ungkap Alasan Usia 50+ Pilih Mobil Listrik Jelang Masa Pensiun

Sabtu 24 Jan 2026, 18:44 WIB
Ilustrasi riset ID COMM mengungkap kelompok usia 50 tahun ke atas mulai mengadopsi mobil listrik. (Sumber: ID COMM)

Ilustrasi riset ID COMM mengungkap kelompok usia 50 tahun ke atas mulai mengadopsi mobil listrik. (Sumber: ID COMM)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Bagi sebagian pekerja berusia 50 tahun ke atas di wilayah Jabodetabek, rutinitas pagi kini mengalami perubahan. Jika sebelumnya memanaskan mesin atau memperkirakan biaya bahan bakar menjadi kebiasaan, kini memastikan baterai kendaraan terisi penuh justru menjadi prioritas sebelum berangkat.

Mobil listrik bagi kelompok usia ini bukan lagi sekadar teknologi baru yang ingin dicoba. Kendaraan tersebut dipandang sebagai keputusan rasional dalam mengelola pengeluaran rumah tangga, terutama saat mendekati masa pensiun.

Riset ID COMM bertajuk “Menuju Era Mobil Listrik: Sejauh Mana Indonesia Siap?” mengidentifikasi tiga kelompok usia utama pengguna mobil listrik di Indonesia. Selain kelompok usia 25–35 tahun dan 36–50 tahun, terdapat segmen usia 50 tahun ke atas yang selama ini relatif jarang disorot.

Pada fase ketika penghasilan tetap akan berkurang atau berhenti, kelompok ini justru melihat mobil listrik sebagai sarana untuk tetap bermobilitas tanpa dibebani biaya operasional yang tinggi.

Baca Juga: Otoproject Buka Studio Otomotif Berkonsep Experience di Kota Kasablanka

Salah satu responden laki-laki dalam riset tersebut menceritakan pengalamannya secara sederhana. Mobil listrik yang awalnya dibeli sebagai kendaraan kedua, perlahan beralih menjadi kendaraan utama karena dinilai lebih nyaman dan hemat untuk aktivitas harian.

Bagi kelompok usia jelang pensiun, pergeseran ini bukan didorong keinginan mengikuti tren. Fokus utamanya adalah pengelolaan pengeluaran yang lebih bijak. Riset mencatat harga mobil listrik yang dibeli responden berada di rentang Rp189 juta hingga Rp1,586 miliar.

Mobilitas Tetap Dibutuhkan di Usia Senja

Memasuki masa pensiun tidak berarti kebutuhan mobilitas berhenti. Aktivitas seperti mengantar cucu, mengurus keperluan rumah tangga, bersilaturahmi dengan keluarga, hingga mengikuti kegiatan sosial tetap dijalani.

Perbedaannya terletak pada cara pandang. Pertanyaan yang kini muncul lebih bersifat praktis: seberapa besar biaya bulanan yang harus dikeluarkan, bagaimana perawatannya, serta apakah kendaraan tersebut dapat diandalkan tanpa menambah beban pengeluaran.

Seorang responden berusia 59 tahun asal Tangerang Selatan mengungkapkan alasan memilih mobil listrik.

“Kami pilih mobil listrik sebagai persiapan pensiun supaya biayanya lebih hemat, " tutur dia. 

Baca Juga: Yamaha Segarkan Fazzio Hybrid, Ini Daftar Warna dan Harganya

Pernyataan tersebut mempertegas bahwa motif ekonomi menjadi pendorong utama adopsi mobil listrik di kelompok usia 50 tahun ke atas. Biaya operasional yang lebih rendah serta adanya insentif fiskal membuat kendaraan listrik terasa lebih ramah bagi perencanaan keuangan jangka panjang.

Isu lingkungan tetap diapresiasi, namun faktor utama yang dicari adalah keamanan, kenyamanan, perawatan yang relatif sederhana, serta pengeluaran yang dapat diprediksi.

Pandangan Peneliti Soal Adopsi Usia 50+

Co-Founder dan Director ID COMM, Asti Putri, menjelaskan bahwa pemilik mobil listrik umumnya berasal dari kelompok early adopters yang berani mencoba teknologi baru.

“Pada umumnya, konsumen pemilik mobil listrik adalah para early adopters, yaitu orang-orang yang berani berinvestasi dan berkendara dengan teknologi baru. Khusus kelompok usia 50 tahun ke atas, ada faktor unik dimana mereka sadar kegiatan hariannya akan menurun, namun ingin tetap mempertahankan mobilitas dengan biaya relatif hemat,” ujar Asti Putri.

Ia menambahkan, meski harus beradaptasi dengan berbagai fitur baru, hal tersebut tidak menghalangi minat mereka.

“Meskipun mereka harus beradaptasi dengan fitur-fitur mobil listrik, namun hal ini tidak menghambat keinginan mereka untuk memilikinya. Justru hal inilah yang membuat mereka bangga karena bisa mengadopsi tren berkendara dengan cara berbeda," tambah dia. 

Baca Juga: Geely Resmikan Dealer Mobil Perdana di Bali, Targetkan 80 Jaringan pada 2026

Di balik tren tersebut, sejumlah tantangan masih dirasakan. Infrastruktur pengisian daya yang belum merata, kekhawatiran soal jarak tempuh, serta layanan purna jual menjadi catatan penting.

Namun tantangan ini tidak hanya dialami oleh kelompok usia 50 tahun ke atas, melainkan juga seluruh segmen konsumen mobil listrik di Indonesia.

Arah pergeseran mulai terlihat jelas. Ketika pengelolaan biaya hidup menjadi perhatian utama, mobil listrik menemukan relevansinya secara praktis. Bagi sebagian masyarakat usia jelang pensiun, kendaraan listrik bukan sekadar simbol teknologi, melainkan alat untuk menjaga mobilitas tanpa menambah beban finansial.


Berita Terkait


News Update