Cara Menggunakan Paylater dengan Bijak agar Tidak Terjebak Utang Menumpuk

Jumat 23 Jan 2026, 16:23 WIB
Tips Menggunakan Paylater Secara Cerdas supaya Tagihan Tidak Membengkak (Sumber: Pinterest)

Tips Menggunakan Paylater Secara Cerdas supaya Tagihan Tidak Membengkak (Sumber: Pinterest)

POSKOTA.CO.ID - Paylater kini menjadi salah satu metode pembayaran yang paling banyak digunakan masyarakat Indonesia, terutama seiring meningkatnya aktivitas belanja online.

Layanan ini menawarkan kemudahan bertransaksi dengan konsep beli sekarang, bayar nanti, sehingga pengguna tidak perlu membayar penuh di awal. Namun, di balik kemudahannya, paylater tetap merupakan produk kredit yang mengandung risiko finansial jika tidak digunakan secara bijak.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa layanan paylater termasuk dalam kategori pembiayaan yang wajib dikelola secara bertanggung jawab.

“Setiap bentuk pembiayaan, sekecil apa pun, memiliki kewajiban yang harus dipenuhi oleh konsumen,” demikian keterangan OJK dalam publikasi literasi keuangan resminya.

Oleh karena itu, pemahaman mengenai cara menggunakan paylater yang tepat menjadi kunci agar layanan ini benar-benar membantu, bukan justru menimbulkan masalah utang di kemudian hari.

Baca Juga: Update KUR BNI Tahun 2026: Ini Ketentuan Terbaru yang Menentukan Pengajuan Disetujui

Memahami Cara Kerja Paylater Sebelum Menggunakannya

Paylater adalah fasilitas kredit jangka pendek yang memungkinkan pengguna menunda pembayaran atau mencicil tagihan dalam jangka waktu tertentu. Setiap penyedia layanan memiliki skema berbeda, mulai dari bunga, biaya layanan, tenor cicilan, hingga denda keterlambatan.

Bank Indonesia (BI) menyebutkan bahwa konsumen wajib membaca syarat dan ketentuan secara menyeluruh sebelum menggunakan produk keuangan digital. Hal ini penting karena biaya tambahan seperti bunga harian dan biaya administrasi sering kali tidak disadari pengguna.

Dengan memahami mekanisme paylater sejak awal, pengguna dapat memperkirakan total kewajiban yang harus dibayarkan dan menghindari potensi pembengkakan utang.

Gunakan Paylater untuk Kebutuhan yang Bersifat Prioritas

Salah satu kesalahan paling umum dalam penggunaan paylater adalah memanfaatkannya untuk kebutuhan konsumtif yang sebenarnya tidak mendesak. Padahal, setiap transaksi paylater pada dasarnya adalah utang yang wajib dilunasi.

Agar lebih aman, paylater sebaiknya digunakan untuk kebutuhan yang bersifat penting atau produktif, seperti kebutuhan pokok, biaya pendidikan, atau perlengkapan kerja. Sebaliknya, penggunaan paylater untuk gaya hidup, hiburan, atau belanja impulsif perlu dibatasi.

Perencana keuangan menyarankan agar konsumen selalu bertanya pada diri sendiri sebelum menggunakan paylater: apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya sekadar keinginan sesaat.

Menyesuaikan Limit Paylater dengan Kemampuan Finansial

Banyak platform paylater menawarkan limit kredit yang cukup besar. Namun, besarnya limit tidak selalu mencerminkan kemampuan bayar pengguna. Prinsip dasar pengelolaan keuangan menyebutkan bahwa total cicilan bulanan idealnya tidak melebihi 30 persen dari penghasilan.

Dengan kata lain, pengguna perlu menghitung secara realistis kemampuan membayar cicilan setiap bulan. Memilih tenor pendek dan memahami total biaya, termasuk bunga dan biaya admin, dapat membantu mengurangi beban finansial di masa depan.

Membayar Tagihan Tepat Waktu untuk Menjaga Skor Kredit

Kedisiplinan dalam membayar tagihan paylater sangat berpengaruh terhadap kondisi keuangan dan skor kredit. Keterlambatan pembayaran tidak hanya menimbulkan denda, tetapi juga dapat menurunkan skor kredit pengguna.

Menurut Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK, riwayat pembayaran kredit menjadi salah satu faktor utama dalam penilaian kelayakan kredit seseorang. Skor kredit yang buruk dapat menyulitkan pengguna saat mengajukan pinjaman lain di kemudian hari.

Untuk mencegah keterlambatan, pengguna disarankan memanfaatkan fitur pengingat atau autodebit yang tersedia di aplikasi paylater.

Membatasi Jumlah Layanan Paylater yang Digunakan

Menggunakan banyak layanan paylater sekaligus berpotensi membuat pengelolaan utang menjadi tidak terkendali. Tagihan yang tersebar di berbagai platform sering kali sulit dipantau dan berisiko menumpuk tanpa disadari.

Agar lebih aman, pengguna sebaiknya membatasi penggunaan maksimal satu atau dua layanan paylater yang tepercaya dan sesuai kebutuhan. Memilih platform yang terdaftar dan diawasi OJK juga menjadi langkah penting untuk menghindari risiko penyalahgunaan data dan praktik penagihan yang tidak wajar.

Baca Juga: BCA Kasih Promo Paylater hingga Rp20 Juta! Cek Bunga, Tenor, dan Cara Daftarnya

Rutin Memeriksa Riwayat Transaksi

Memantau riwayat transaksi secara berkala membantu pengguna memahami pola belanja dan mencegah pengeluaran berlebihan. Transaksi kecil yang dilakukan berulang kali sering kali menjadi penyebab utama tagihan membengkak.

Dengan mengecek riwayat transaksi setiap minggu, pengguna dapat memastikan tidak ada transaksi mencurigakan sekaligus mengevaluasi kebiasaan belanja yang perlu dikendalikan.

Menempatkan Paylater sebagai Alat Bantu, Bukan Gaya Hidup

Pada dasarnya, paylater dirancang sebagai alat bantu pengelolaan arus kas jangka pendek, bukan sebagai sarana membiayai gaya hidup. Jika digunakan secara tepat, paylater dapat membantu memenuhi kebutuhan mendesak tanpa mengganggu stabilitas keuangan.

Namun, tanpa kontrol dan disiplin, paylater justru berpotensi menjerat pengguna dalam lingkaran utang. Oleh sebab itu, literasi keuangan dan kesadaran diri menjadi kunci utama dalam memanfaatkan layanan ini.

Cara menggunakan paylater secara bijak dimulai dari memahami cara kerjanya, membatasi penggunaan untuk kebutuhan prioritas, menyesuaikan dengan kemampuan finansial, membayar tagihan tepat waktu, serta memantau transaksi secara rutin.

Dengan pendekatan yang disiplin, paylater dapat menjadi solusi pembayaran yang praktis dan aman, bukan beban keuangan jangka panjang.


Berita Terkait


News Update