Di wilayah Jakarta terdapat delapan titik pengukuran curah hujan, utamanya di Jakarta Utara.
Pramono mengatakan dari delapan titik tersebut rata-rata curah hujan mencapai 260 milimiter bahkan tercatat hingga 280 milimeter.
"Di Jakarta Utara ada delapan titik untuk menghitung curah hujan itu rata-rata 260. Ada bahkan yang sampai dengan 280 dan itu tertinggi yang pernah saya ketahui selama saya menjabat sebagai Gubernur Jakarta," ucapnya.
Pramono mengaku kekhawatiran terbesarnya adalah apabila hujan ekstrem kembali terjadi seperti pada hari sebelumnya, terutama pada Sabtu dan Minggu.
"Yang saya khawatirkan kalau ada hujan kembali seperti di satu hari sebelumnya, terutama hari Sabtu dan Minggu di mana curah hujannya itu belum pernah terjadi," ungkap Pramono.
Meski demikian, Pramono menegaskan dirinya tidak mengeluhkan kondisi tersebut karena penanganan banjir sudah menjadi tanggung jawab pemerintah.
"Tapi apapun saya tidak mengeluh terhadap hal itu, karena itu sudah menjadi tanggung jawab untuk bagaimana penanganannya dan alhamdulillah per tadi pagi itu semua sudah tidak ada yang terdampak lagi," tuturnya.
Baca Juga: Seperti Apa Jam Kerja Dapur Program Makan Gratis? Ini Pembagian Tugas Pemorsian sampai Packing
Anggaran OMC

Mengenai anggaran Operasi Modifikasi Cuaca, Pramono menjelaskan bahwa Pemprov DKI telah mengalokasikan anggaran khusus untuk satu bulan penuh, bahkan dilakukan pergeseran dari pos Belanja Tidak Terduga (BTT).
Ia mengatakan, pola penganggaran OMC saat ini jauh lebih fleksibel dibandingkan sebelumnya.
"Cukup pokoknya. Karena anggarannya tidak seperti dulu. Dulu anggarannya hanya untuk modifikasi cuaca paling 3 hingga 5 kali. Ini mau sebulan pun akan diambil," ujarnya.
