JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Sebanyak 73 kepala keluarga (KK) yang selama bertahun-tahun bermukim di kawasan Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kebon Nanas, Jakarta Timur, resmi direlokasi oleh Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur ke enam rumah susun sederhana sewa (rusunawa).
Relokasi tersebut dilakukan dengan menempatkan para warga di sejumlah rusunawa yang tersebar di wilayah Jakarta Timur sebagai bagian dari penataan kawasan dan peningkatan kualitas hunian.
Relokasi ini dilakukan sebagai bagian dari penataan kembali fungsi TPU yang akan dikembalikan sesuai peruntukannya sebagai lahan pemakaman.
Salah satu warga yang telah direlokasi, Guntur Subroto (51), mengaku sudah tinggal di kawasan TPU Kebon Nanas selama 17 tahun sebelum akhirnya pindah ke Rusun Pulo Gebang. Ia mengaku tempat tinggal saat ini jauh lebih nyaman dari tempat sebelumnya di area makam.
Baca Juga: Dipicu Korsleting Listrik, Mobil Boks Hangus Terbakar di Tol Cijago Depok
“Kalau dibandingkan jauh. Kalau nyaman, saya lebih nyaman di sini. Fasilitasnya lengkap, ada jogging track, playground, masjid besar, sampai lapangan futsal,” ujar Guntur saat ditemui di lokasi, Senin, 12 Januari 2025.
Guntur yang sehari-hari bekerja sebagai pedagang es di kawasan Pulogadung menyebut relokasi ini tidak terlalu berdampak pada pekerjaannya. Akses transportasi dinilai memadai karena tersedia layanan TransJakarta. Meski begitu, ia mengaku masih mengurus fasilitas transportasi gratis yang disediakan pemerintah.
“Kalau transportasi sih enggak masalah. Busway ada. Yang gratis aja kartunya belum saya urus,” ujar Guntur.
Kendala utama yang dirasakan Guntur justru datang dari proses pemindahan sekolah anaknya. Anak Guntur sebelumnya bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang berada di bawah Departemen Kementerian Agama, sehingga proses pindah ke sekolah negeri membutuhkan perizinan tambahan.
Baca Juga: Curah Hujan Tinggi Picu Luapan Kali Angke, Air Sampai Masuk Kantor BJB dan Samsat
“Ini baru soal anak sekolah. Dari MI kan di bawah Depag, kalau pindah ke SD Negeri beda dinas. Tapi sudah saya urus, gampang kok,” kata dia.
Guntur menjelaskan, alasan awal dirinya tinggal di TPU Kebon Nanas adalah karena keterbatasan ekonomi. Harga kontrakan yang mahal membuatnya memilih tinggal di area makam, bahkan sempat membeli bangunan di atas lahan tersebut dengan harga sekitar Rp3 juta.
“Dulu kontrakan mahal, makanya cari yang murah. Lama-lama ada yang jual lahan, saya beli. Tapi kan itu bukan tanah kita,” katanya.
Menurutnya, alasan utama pindah adalah karena pemerintah akan mengembalikan fungsi lahan sebagai pemakaman. Ia pun menerima keputusan tersebut selama warga dipindahkan ke tempat yang lebih layak.
“Lahannya mau difungsikan lagi buat pemakaman, itu bukan tanah kami. Jadi kami balikin ke pemerintah. Yang penting dipindahin ke tempat yang nyaman,” ujarnya.
Baca Juga: Relokasi Warga TPU Kebon Nanas, 73 KK Tempati Rusun di Jaktim
Guntur menyebut, proses relokasi berlangsung cukup mudah karena dibantu penuh oleh petugas gabungan dari PPSU, Satpol PP, dan dinas terkait. Warga tidak perlu mengangkut barang sendiri karena seluruh proses pemindahan dilakukan petugas hingga ke depan unit rusun.
Selain unit hunian, warga juga menerima sejumlah bantuan, seperti sembako, kasur, serta uang tunai sebesar Rp500 ribu untuk kebutuhan anak. Guntur juga menjelaskan bahwa selama enam bulan pertama, warga dibebaskan dari biaya sewa. Setelah itu, ia dikenakan tarif Rp230 ribu per bulan yang dinilainya sangat terjangkau.
“Ringan banget. Kalau umum bisa 700 ribuan. Ini juga bayarnya lewat Bank DKI,” ungkap dia.
Unit rusun yang ditempatinya bertipe 30 dengan dua kamar tidur, ruang tamu, dapur, kamar mandi, dan balkon.
Sementara itu, warga lain bernama Umaruddin (27) yang juga direlokasi mengaku sebelumnya tinggal di TPU Kebon Nanas selama sekitar lima tahun. Ia pindah bersama istri, satu anak, serta orang tua lanjut usia yang ikut dalam satu data keluarga.
“Kalau perubahan sih paling di pekerjaan. Soalnya kerja saya di sana, jadi masih ngatur-ngatur lagi,” kata Umaruddin yang bekerja sebagai mekanik bengkel.
Umaruddin mengaku belum sepenuhnya mengeksplorasi fasilitas rusun karena masih dalam tahap penyesuaian. Namun baginya, yang terpenting adalah kenyamanan untuk anak dan istri.
“Yang penting buat anak sama istri saja,” ujarnya.
Kendala yang dirasakan Umaruddin adalah posisi unit hunian yang berada di lantai atas, mengingat ia tinggal bersama orang tua lansia. Meski begitu, ia tetap berharap relokasi ini membawa perubahan ke arah yang lebih baik.
“Harapannya semoga ada perubahan. Dari yang kurang layak jadi layak. Itu saja,” kata dia.
Relokasi warga TPU Kebon Nanas ini menjadi bagian dari upaya Pemkot Jakarta Timur untuk menata kawasan pemakaman sekaligus menyediakan hunian yang lebih manusiawi dan layak bagi warga yang sebelumnya tinggal di area tidak semestinya. (cr-4)
