Guntur menjelaskan, alasan awal dirinya tinggal di TPU Kebon Nanas adalah karena keterbatasan ekonomi. Harga kontrakan yang mahal membuatnya memilih tinggal di area makam, bahkan sempat membeli bangunan di atas lahan tersebut dengan harga sekitar Rp3 juta.
“Dulu kontrakan mahal, makanya cari yang murah. Lama-lama ada yang jual lahan, saya beli. Tapi kan itu bukan tanah kita,” katanya.
Menurutnya, alasan utama pindah adalah karena pemerintah akan mengembalikan fungsi lahan sebagai pemakaman. Ia pun menerima keputusan tersebut selama warga dipindahkan ke tempat yang lebih layak.
“Lahannya mau difungsikan lagi buat pemakaman, itu bukan tanah kami. Jadi kami balikin ke pemerintah. Yang penting dipindahin ke tempat yang nyaman,” ujarnya.
Baca Juga: Relokasi Warga TPU Kebon Nanas, 73 KK Tempati Rusun di Jaktim
Guntur menyebut, proses relokasi berlangsung cukup mudah karena dibantu penuh oleh petugas gabungan dari PPSU, Satpol PP, dan dinas terkait. Warga tidak perlu mengangkut barang sendiri karena seluruh proses pemindahan dilakukan petugas hingga ke depan unit rusun.
Selain unit hunian, warga juga menerima sejumlah bantuan, seperti sembako, kasur, serta uang tunai sebesar Rp500 ribu untuk kebutuhan anak. Guntur juga menjelaskan bahwa selama enam bulan pertama, warga dibebaskan dari biaya sewa. Setelah itu, ia dikenakan tarif Rp230 ribu per bulan yang dinilainya sangat terjangkau.
“Ringan banget. Kalau umum bisa 700 ribuan. Ini juga bayarnya lewat Bank DKI,” ungkap dia.
Unit rusun yang ditempatinya bertipe 30 dengan dua kamar tidur, ruang tamu, dapur, kamar mandi, dan balkon.
Sementara itu, warga lain bernama Umaruddin (27) yang juga direlokasi mengaku sebelumnya tinggal di TPU Kebon Nanas selama sekitar lima tahun. Ia pindah bersama istri, satu anak, serta orang tua lanjut usia yang ikut dalam satu data keluarga.
“Kalau perubahan sih paling di pekerjaan. Soalnya kerja saya di sana, jadi masih ngatur-ngatur lagi,” kata Umaruddin yang bekerja sebagai mekanik bengkel.
Umaruddin mengaku belum sepenuhnya mengeksplorasi fasilitas rusun karena masih dalam tahap penyesuaian. Namun baginya, yang terpenting adalah kenyamanan untuk anak dan istri.
