Warga Tambora Jakbar Harus Rogoh Rp10 Ribu per Hari untuk Beli Air Bersih, Diduga Dampak Aktivias Galian

Jumat 09 Jan 2026, 13:13 WIB
Harijani (64) warga RT 09 RW 03 Kelurahan Jembatan Besi, Tambora, Jakarta Barat, saat mencoba menyalakan kran yang airnya tidak mengalir dan keruh, Jumat, 9 Januari 2026. (Sumber: Poskota/Pandi Ramedhan)

Harijani (64) warga RT 09 RW 03 Kelurahan Jembatan Besi, Tambora, Jakarta Barat, saat mencoba menyalakan kran yang airnya tidak mengalir dan keruh, Jumat, 9 Januari 2026. (Sumber: Poskota/Pandi Ramedhan)

TAMBORA, POSKOTA.CO.ID - Warga Tambora, Jakarta Barat harus merogoh kocek Rp10 ribu setiap harinya untuk mendapatkan air bersih.

Seperti yang diungkapkan salah satu warga, Harijani (64), ia mengaku air bersih yang dibeli ini digunakan untuk memasak dan dikonsumsi.

Hal ini terpaksa dilakukan karena air keran dari PAM yang dibeli sejak sekitar dua bulan belakangan, keruh dan berbau.

Adapun, rumah Hanjani tepatnya berlokasi di Gang Dede RT 09 RW 03 Kelurahan Jembatan Besi Kecamatan Tambora, Jakarta Barat.

Baca Juga: Tingkatkan Keselamatan Warga, JPO di Jalan Tegar Beriman Bogor Dibangun Tahun Ini

"Empat ember ini beli Rp10 ribu. Ini buat satu hari," kata Harijani kepada Poskota saat ditemui, Jumat, 9 Januari 2026.

Harijani juga menggunakan air bersih yang dibelinya itu untuk memasak. Diketahui, Ibu yang sudah lanjut usia (lansia) ini kebetulan juga berjualan nasi uduk.

"Nah ini sekaliah buat air minum, tapi dimasak dulu, dibikin mendidih dulu," ungkap dia.

Lebih lanjut, Harijani mengatakan kondisi ini sudah terjadi sekitar dua bulan, air keran di rumahnya tidak berfungsi dengan normal.

Baca Juga: Punya Utang Rp300 Ribu, Jukir di Tapos Depok Dibunuh

Dari pengakuannya, sekalinya air keran keluar, maka kualitasnya tidak bagus karena terlihat keruh dan sedikit berbau.

"Kalaupun keluar itu airnya keruh, udah gitu bau. Makanya saya beli air taruh ember," ungkap dia.

Hari ini, air pada keran di rumahnya mati. Berdasarkan pengamatan saat dicoba langsung, air hanya keluar pada saat keran dibuka.

Itupun air yang keluar tidak mencapai satu gelas dan air yang keluar itu memang terlihat keruh, seperi tercampur dengan tanah.

Baca Juga: Terjebak Macet, 2 Pelaku Curanmor di Tangerang Gagal Bawa Kabur Motor Curian

"Ya kondisinya begini. Kalau sebelumnya mah ngalir-ngalir aja, ya sekarang begini kondisinya," ucap dia.

Harijani sendiri berangapan bahwa keruhnya air, bahkan sampai tidak mengalir itu dikarenakan adanya proyek galian.

"Ya pokoknya semenjak ada galian itu, enggak tau galian apa katanya sih perbaikan pipa, ya sejak ada itu jadi begini," tuturnya.

Sementara, Harijani mengungkapkan jika dirinya juga tetap harus membayar sekitar Rp90 ribu sampai Rp100 ribu per bulan dari pembelian air PAM.

"Kalau bayar kan tergantung pemakaian kan. Iya, kalau lagi lancar iya," ucap dia.

Sementara itu, warga lainnya, Sidik warga RW 03 juga mengungkapkan hal serupa. Ia mengaku menggunakan air yang keruh itu hanya untuk mandi, bukan untuk dikonsumsi.

"Kalau buat air minum saya beli galon. Kalau air ini (yang keruh) cuma buat mandi doang," kata dia.

Warga sendiri sudah melaporkan hal ini ke pihak terkait, salah satu yang paling dekat yakni ketua RW. Menurut ketua RW 03, Puspita, kondisi ini sudah dilaporkan ke pihak terkait, khususnya ke pihak PAM Jaya.

"Saya udah ngasih tau ke PAM juga, udah laporan. Memang di sini sedang ada galian. Udah berapa bulan si emang itu udah lama juga," tutur Puspita.

Hanya saja sangat disayangkan, pihaknya sama sekali tidak dijelaskan saat proyek galian tersebut akan dikerjakan.

"Enggak (enggak ada penjelasan). PAM-nya itu enggak ngasih tau, tau-tau main bongkar aja tuh," ungkap dia.

Puspita menyampaikan akibatnya ada setidaknya enam RT di RW 03 yang terdampak. Keemam RT yang dimaksud diantaranya RT 10, RT 11, RT 12, RT 14, RT 07, RT 09. (pan)


Berita Terkait


News Update