POSKOTA.CO.ID - Harga emas global menunjukkan tren penguatan yang konsisten dalam beberapa tahun terakhir. Pada perdagangan awal Oktober, emas sempat berada di level USD3.855,73 per troy ons, mencerminkan lonjakan signifikan secara tahunan.
Kenaikan ini tidak hanya menarik perhatian investor institusional, tetapi juga memperkuat posisi emas sebagai aset lindung nilai (safe haven) di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Fenomena tersebut menjadi konteks penting di balik pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang menekankan bahwa emas sebaiknya dijadikan pondasi awal investasi, khususnya bagi generasi muda yang baru mulai membangun portofolio keuangan.
Baca Juga: KUR Mandiri 2026 Kapan Dibuka? Ini Perkiraan Jadwal dan Syarat Pengajuannya
Pesan Menkeu: Bangun Fondasi, Jangan Terjebak Euforia
Dalam wawancara dengan Bloomberg, Purbaya menegaskan pentingnya pendekatan bertahap dalam berinvestasi. Menurutnya, generasi muda tidak perlu tergesa masuk ke instrumen berisiko tinggi.
“Pilih nabung sama emas? Nabung dulu, misalnya lewat emas. Nanti kalau sudah banyak, baru pindah ke instrumen yang sedikit agak berisiko, mungkin saham atau reksa dana karena itu dilakukan oleh orang-orang profesional,” ujar Purbaya dalam wawancara tersebut.
Ia menjelaskan bahwa emas memiliki karakter pergerakan harga yang relatif lebih lambat dibanding saham atau aset digital, tetapi cenderung meningkat dalam jangka panjang. Stabilitas inilah yang membuat emas cocok sebagai instrumen investasi jangka panjang.
Pesan tersebut relevan di tengah maraknya fenomena fear of missing out (FOMO) di kalangan investor muda, yang kerap tergoda imbal hasil besar tanpa memahami risiko yang menyertainya.
Tekanan Inflasi Global Masih Nyata
Menurut laporan Bureau of Labor Statistics AS, secara makroekonomi, kondisi global masih dibayangi tekanan inflasi. Data menunjukkan inflasi Amerika Serikat berada di kisaran 2,9% secara tahunan, sementara inflasi inti tercatat sekitar 3,1%, masih di atas target bank sentral AS (The Fed) sebesar 2%.
Situasi ini mencerminkan bahwa stabilitas harga belum sepenuhnya pulih. Di tengah kondisi tersebut, emas justru menunjukkan daya tahannya sebagai penyimpan nilai. Ketika pasar saham bergerak fluktuatif akibat sentimen suku bunga dan geopolitik, emas cenderung menguat.
Kondisi inilah yang memperkuat pandangan bahwa emas relevan sebagai instrumen pelindung nilai kekayaan, terutama bagi investor pemula.
