Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Sumber: Pinterest)

Internasional

Pasca-Operasi Venezuela, Trump Hidupkan Kembali Rencana Caplok Greenland

Rabu 07 Jan 2026, 14:40 WIB

POSKOTA.CO.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyuarakan ambisi untuk mengakuisisi Greenland, pulau terbesar di dunia yang merupakan wilayah otonom Denmark.

Pernyataan ini muncul pasca-operasi militer AS di Venezuela yang berhasil menangkap Presiden Nicolas Maduro pada 3 Januari lalu, memicu kekhawatiran internasional atas pendekatan ekspansionis Trump.

Dilansir dari The New York Times Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt pada Selasa, 6 Januari 2026 menyatakan bahwa Trump dan timnya sedang membahas "berbagai opsi" untuk mencapai tujuan tersebut.

"Penggunaan militer AS selalu menjadi salah satu opsi yang tersedia bagi Panglima Tertinggi," ujar Leavitt, menegaskan bahwa akuisisi Greenland merupakan prioritas keamanan nasional untuk menghadapi pengaruh Rusia dan China di Arktik.

Baca Juga: Bongkar True Crime Community, Densus 88 Temukan Anak-anak Rancang Aksi Kekerasan

Trump sendiri pada Minggu, 4 Januari 2026 mengulangi keinginannya, dengan menyatakan, "Kami membutuhkan Greenland dari perspektif keamanan nasional, dan Denmark tidak mampu melakukannya."

Ambisi ini bukan hal baru, Trump pertama kali mengusulkannya pada 2019 dan menghidupkannya kembali sejak kembali menjabat pada 2025.

Greenland: Wilayah Strategis di Arktik

Greenland, dengan luas terbesar di dunia (bukan benua), sebagian besar tertutup es dan dihuni sekitar 56.000 orang, mayoritas suku Inuit.

Ekonomi pulau ini bergantung pada perikanan dan subsidi Denmark, tetapi semakin menarik perhatian karena sumber daya mineral langka seperti tanah jarang, uranium, dan besi yang potensial terbuka akibat pemanasan global.

Baca Juga: Internet Rakyat Boleh untuk Main Game Online Atau Tidak? Simak Penjelasannya di Sini

Meski Trump menekankan aspek keamanan nasional "bukan untuk mineral" laporan menyebut meningkatnya aktivitas militer Rusia dan China di kawasan Arktik menjadi alasan utama.

Reaksi Keras dari Denmark dan Greenland

Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen mendesak Trump menghentikan "ancaman" tersebut, memperingatkan bahwa serangan terhadap Greenland berarti akhir NATO.

Pemimpin Greenland Jens-Frederik Nielsen menolak keras ide aneksasi: "Tidak ada lagi tekanan atau fantasi aneksasi. Kami terbuka untuk dialog, tapi dengan menghormati hukum internasional."

Survei menunjukkan mayoritas penduduk Greenland mendukung kemerdekaan dari Denmark, namun menentang bergabung dengan AS.

Baca Juga: Satu Jenazah Diduga WNA Spanyol Korban KM Putri Sakinah Kembali Ditemukan

Pemimpin Eropa seperti Prancis, Jerman, dan Inggris juga menyatakan solidaritas, menegaskan bahwa masa depan Greenland hanya ditentukan oleh Denmark dan rakyatnya.

Pernyataan Gedung Putih ini memicu kontroversi global, terutama setelah operasi Venezuela yang dianggap melanggar kedaulatan.

Pengamat khawatir pendekatan ini dapat merusak aliansi NATO dan stabilitas internasional.

Tags:
Presiden Nicolas MaduroVenezuelaASoperasi militerpulau terbesar di duniaGreenlandDonald TrumpPresiden Amerika Serikat

Insan Sujadi

Reporter

Insan Sujadi

Editor