JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Pengamat Kesehatan Dicky Budiman menjelaskan bahwa istilah Super Flu sejatinya bukanlah nama resmi dalam dunia medis. Ia menjelaskan, sebutan tersebut awalnya muncul dari pemberitaan media dan kemudian menyebar luas di masyarakat global.
“Sebetulnya Super Flu itu adalah nama yang disematkan oleh media dan akhirnya menyebar di masyarakat di berbagai belahan dunia. Nama ini merujuk pada satu sub-clade K atau sub-varian dari virus Influenza A H3N2,” ujar Dicky kepada Poskota, Minggu, 4 Januari 2025.
Dicky menekankan pentingnya pemahaman dasar mengenai klasifikasi virus influenza. Menurut Dicky, influenza disebabkan oleh empat jenis virus utama, yakni Influenza A, B, C, dan D. Dari keempatnya, Influenza A dan B merupakan jenis yang paling sering bersirkulasi secara musiman dan menyebabkan wabah pada manusia.
“Influenza A itu memiliki banyak turunan. Salah satunya H1N1 yang pernah menyebabkan pandemi pada 1918 sampai 1920 dan sekarang sudah menjadi virus endemik dengan berbagai mutasi. Selain itu ada H3N2, yang cenderung memberikan dampak infeksi lebih parah dibandingkan H1N1,” ucap Dicky.
Baca Juga: Viral Penusukan Malam Tahun Baru di Kemang Hingga Kritis, Pelaku Masih Berkeliaran
Dicky mengungkapkan bahwa sub-clade K pertama kali terdeteksi sekitar Juni 2025 di Eropa dan Jepang. Varian ini kemudian dijuluki Super Flu karena memiliki karakteristik penyebaran yang lebih cepat dan muncul lebih awal dari siklus influenza musiman.
“Virus ini memicu wabah lebih awal dari siklus rutinnya. Misalnya, sudah muncul satu bulan sebelum puncak musim dingin di belahan bumi utara, sekitar Oktober atau November,” kata Dicky.
Selain cepat menyebar, gejala yang ditimbulkan juga dinilai lebih berat, terutama pada kelompok rentan seperti lansia di atas 65 tahun dan anak-anak di bawah usia lima tahun. Ia menyebutkan, keluhan yang sering dialami pasien meliputi batuk yang lebih lama, dahak lebih banyak, serta nyeri telan yang sangat tajam dan terasa pedas.
“Keluhannya itu mirip dengan COVID-19. Batuknya lama, dahaknya banyak, dan nyeri telannya sangat mengganggu,” ungkapnya.
Baca Juga: Polisi Selidiki Penemuan Jasad Pria Lanjut Usia Tanpa Identitas di Area Persawahan Kronjo
Secara global, Dicky memperkirakan sekitar tiga juta orang telah terinfeksi, dengan ratusan ribu di antaranya masuk kategori kasus parah. Bahkan, pasien yang membutuhkan perawatan di rumah sakit rata-rata harus menjalani rawat inap selama 7 hingga 14 hari.
