Penjualan BYD Melejit di Indonesia, Tapi Ada PR Besar soal Perakitan Lokal

Sabtu 03 Jan 2026, 16:46 WIB
Ilustrasi penjualan BYD di Indonesia melonjak berkat insentif impor. Namun kini wajib memenuhi komitmen perakitan lokal. (Sumber: BYD)

Ilustrasi penjualan BYD di Indonesia melonjak berkat insentif impor. Namun kini wajib memenuhi komitmen perakitan lokal. (Sumber: BYD)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Kehadiran BYD di pasar otomotif nasional menjadi salah satu contoh bagaimana insentif impor pemerintah mampu mengubah peta persaingan mobil listrik di Indonesia. Berkat kebijakan tersebut, produsen asal China itu dapat menawarkan harga yang relatif kompetitif meski seluruh unit yang dijual masih berstatus impor utuh atau completely built up (CBU).

BYD resmi memulai kiprahnya di Indonesia pada awal 2024 dengan membawa tiga model sekaligus, yakni Dolphin, Atto 3, dan Seal. Ketiganya menyasar segmen berbeda, mulai dari hatchback listrik, SUV, hingga sedan, yang membuat jangkauan pasar BYD cukup luas sejak awal.

Berdasarkan data penjualan ritel Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), pengiriman mobil BYD ke konsumen baru tercatat mulai Juli 2024. Pada bulan perdana tersebut, penjualan mencapai 2.047 unit. Angka itu meningkat pada Agustus menjadi 2.369 unit, sebelum sempat turun di September ke level 1.788 unit.

Baca Juga: BMW ALPINA Lepas Status Lama, Kini Berdiri Sendiri di Bawah BMW Group

Meski demikian, performa BYD kembali stabil pada kuartal akhir 2024. Sepanjang Oktober hingga Desember, penjualan ritel BYD konsisten berada di kisaran 2.000 unit per bulan. Secara total, dalam enam bulan pertama kehadirannya, BYD membukukan penjualan ritel 13.964 unit, mengungguli sejumlah merek China lain di periode yang sama.

Momentum positif tersebut berlanjut pada 2025. BYD menambah jajaran produknya dengan menghadirkan model baru, termasuk mobil listrik berukuran kecil Atto 1 yang dikenal sebagai Seagull di beberapa pasar global. Kehadiran model ini terbukti memberi dampak signifikan terhadap penjualan.

Pada Oktober 2025, penjualan BYD melonjak hingga 9.732 unit, kemudian diikuti capaian 8.243 unit pada November. Secara kumulatif, penjualan BYD selama Januari hingga November 2025 mencapai 39.289 unit, dengan pangsa pasar sekitar 5,3 persen.

Baca Juga: Jauh dari Indonesia, Meksiko Justru Borong Mobil Rakitan Lokal

Capaian tersebut menempatkan BYD sebagai merek mobil terlaris ketiga di Indonesia pada November 2025, tepat di bawah Toyota dan Daihatsu. Kontribusi juga datang dari submerek premium Denza. Hanya dengan satu model, Denza D9 mampu mencatatkan penjualan 7.047 unit.

Namun di balik pertumbuhan tersebut, BYD menghadapi kewajiban lanjutan sebagai bagian dari skema insentif impor. Pemerintah mensyaratkan produsen penerima insentif untuk mulai melakukan perakitan lokal sesuai target yang ditetapkan.

Ketentuan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Investasi/Kepala BKPM Nomor 6 Tahun 2023 tentang Pedoman dan Tata Kelola Pemberian Insentif Impor dan/atau Penyerahan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai Roda Empat dalam rangka percepatan investasi.


Berita Terkait


News Update