"Informasi dari tim @kitabisacom , penggalangan dana ini tercatat sebagai penggalangan dana terbesar yang pernah ada di @kitabisacom untuk bencana nasional dan ini dapat terjadi karena kepedulian dan sumbangsih kawan-kawan. Perkembangan selanjutnya akan selalu diupdate secara berkala."
Kontroversi 'Yapping' dan Pembelaan Tak Terduga
Pencapaian ini tidak lepas dari kontroversi sebelumnya. Ferry sempat dikritik oleh TikToker Silvia Tjan yang menyebutnya 'yapping', istilah slang untuk berbicara berlebihan atau cerewet tentang hal yang dianggap tidak penting.
Kritik itu muncul setelah Ferry mempertanyakan alasan banjir di Sumatera belum ditetapkan sebagai bencana nasional. Silvia Tjan menanggapi,
"Ini buat yang masih yapping kenapa bencana di Sumatera belum ditetapkan sebagai bencana nasional."
Ia beralasan status bencana nasional belum diberikan karena pemerintah daerah dinilai masih mampu menangani.
"Yang penting teriak dulu biar kelihatan empati, tapi malah bikin kacau dan gak membantu sama sekali."
Kritik tersebut tak berlangsung lama. Yudo Achilles Sadewa, anak Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, membela Ferry dengan menunjukkan bukti nyata aksinya. Ia mengunggah tangkapan layar dari Kitabisa.com yang menunjukkan dana terkumpul lebih dari Rp10 miliar.
"Kemarin di aplikasi sarang monyet ada yang bilang cuma yapping, tapi udah donasi 10 M lebih," tulis Yudo.
Fokus pada Penyaluran yang Tepat Sasaran

Dengan dana yang telah terkumpul, fokus kini beralih ke proses penyaluran yang efektif dan transparan. Ferry Irwandi menegaskan komitmennya untuk mendistribusikan bantuan, khususnya ke daerah-daerah terpencil dan terisolasi yang terdampak bencana.
Kisah ini menjadi catatan tentang bagaimana gerakan sosial di era digital bisa menghasilkan dampak nyata dalam waktu singkat, sekaligus menyoroti interaksi kompleks antara aksi, kritik, dan pembelaan di ruang publik. Masyarakat kini menanti realisasi penyaluran bantuan yang dijanjikan.
