Kisah Tiga Guru Penerima Anugerah Guru Indonesia 2025 oleh Presiden Prabowo

Sabtu 29 Nov 2025, 15:33 WIB
Presiden Prabowo Subianto foto bersama dengan penerima Anugerah Guru Indonesia 2025 pada acara Puncak Peringatan Hari Guru Nasional 2025 (Sumber: BPMI Setpres/Laily Rachev)

Presiden Prabowo Subianto foto bersama dengan penerima Anugerah Guru Indonesia 2025 pada acara Puncak Peringatan Hari Guru Nasional 2025 (Sumber: BPMI Setpres/Laily Rachev)

“Saya melihat kesenjangan di daerah terpencil itu begitu tinggi dan sementara saya sebagai guru tidak bisa berbuat apapun kecuali mendidik anak-anak. Nah karena itu, 2017 saya tergerak untuk bagaimana caranya bisa meminimalisir kesenjangan yang ada,” ungkap Koko.

Baca Juga: Fakta Terkini Banjir dan Longsor Sumatera 2025: Aceh Darurat Bencana 14 Hari, 15 Kabupaten/Kota di Sumut Terendam

Dalam kesempatan tersebut, Koko menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah terhadap wilayah terpencil dan berharap penguatan fasilitas terus berlanjut. Koko juga menyampaikan rasa syukurnya atas program pemerintahan Presiden Prabowo dalam memajukan pendidikan di daerah 3T.

“Saya berharap tentunya pendidikan lebih baik dan utamanya di pemerintah Pak Prabowo ini, kami terima kasih di daerah 3T sudah mendapatkan smartboard kemarin dikirim, dan saya berharap pada seluruh guru di Indonesia tidak hanya peka terhadap mendidik anak, tetapi coba peka terhadap lingkungan sekitar,” imbuh Koko.

Sementara itu di Banyumas, Umi Salamah, Kepala PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) Banyumas, penerima anugerah guru pejuang pendidikan non formal dan inklusif, telah tiga dekade membuka rumahnya untuk pendidikan nonformal, mulai dari buta huruf hingga perguruan tinggi.

Umi mendirikan PKBM, PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), kelas paket, SLB (Sekolah Luar Biasa), hingga merintis Pondok Pesantren ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) untuk menjawab kebutuhan ABK di wilayah yang dulu tak memiliki layanan SLB.

Baca Juga: 13 Jalan di Kota Medan Sudah Bisa Digunakan Pengendara Pasca Banjir yang Melanda, Cek Daftarnya di Sini

“Saya menggunakan rumah saya, rumah saya semuanya untuk kegiatan-kegiatan itu. Jadi kalau lagi musim tutorial, rumah saya seperti kampus, pagi untuk PAUD, sore untuk S1, kalau Paket A, Paket B, Paket C kita di gedung SD (Sekolah Dasar). Alhamdulillah kalau sekarang alhamdulillah saya sudah punya gedung sendiri, swadaya mandiri sampai bangun gedungnya alhamdulillah sekarang sudah punya tempat sendiri. Jadi rumah saya sekarang tinggal untuk sekretariat PKBM. Terus ya untuk kegiatan-kegiatan rapat kalau itu kadang-kadang kita di rumah,” ungkap Umi.

Selain itu, Umi berharap perhatian terhadap pendidikan inklusif terus diperkuat, terutama bagi guru PAUD dan tutor nonformal yang selama ini terus berjuang. “Itu perhatian kepada guru PAUD yang sekarang sedang berjuang untuk kesetaraan. Kemudian para tutor juga nampaknya belum setara dengan guru seperti itu ya. Padahal kita kan sebetulnya sama ya kita guru, bahkan guru yang mungkin dari kesetaraan memang kurang diperhatikan. Jadi mungkin itulah. Tapi saya bersyukur Saya angkat jempol dengan pemerintah yang sekarang sudah jauh lebih baik memperhatikan kami,” imbuh Umi.

Kisah tiga guru ini memperlihatkan wajah keteladanan yang menjadi fondasi tema Guru Hebat, Indonesia Kuat. Melalui tindakan nyata, mereka menghidupkan semangat bahwa pendidikan Indonesia bertumbuh dari dedikasi, empati, dan keberanian untuk melampaui batas peran seorang pendidik.


Berita Terkait


News Update