Obrolan Warteg: Perlu Menahan Diri

Sabtu 30 Agu 2025, 07:15 WIB
Warga membahas insiden ricuh di DPR pada 28 Agustus 2025, yang menewaskan seorang driver ojol. (Sumber: Poskota/Arif Setiadi)

Warga membahas insiden ricuh di DPR pada 28 Agustus 2025, yang menewaskan seorang driver ojol. (Sumber: Poskota/Arif Setiadi)

POSKOTA.CO.ID - Berbagai komentar terlontar menanggapi aksi massa di DPR pada Kamis, 28 Agustus 2025 yang berakhir ricuh. Aksi keprihatinan pun berdatangan dari beragam kalangan,menyusul adanya korban jiwa saat pembubaran aksi.

Seperti ramai diberitakan, insiden tersebut terjadi saat kepolisian berupaya membubarkan massa aksi demonstrasi di Jalan Penjernihan I, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Kamis malam. Saat itulah kendaraan taktis (rantis) diduga milik Brimob, melindas Affan Kurniawan,21 tahun, driver ojol. Korban dilaporkan meninggal dunia dalam perjalanan ke rumah sakit.

Berbagai kalangan mendesak agar dibentuk tim investigasi independen guna mengusut tuntas insiden tersebut. Penanganan dilakukan secara transparan, begitu juga investigasi. Ya, semuanya harus transparan memberikan penjelasan.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Jangan Pamer Kemewahan

“Apapun penyebabnya tindakan yang sampai menimbulkan korban jiwa, tetap saja tidak dibenarkan,” kata bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.

“Lepas apakah tindakan tersebut di luar kontrol, adanya kekeliruan, dan lain sebagainya, tetap saja insiden sudah terjadi, publik sudah menyaksikan, tak bisa ditutup- tutupi,” tambah Yudi.

“Itulah perlunya penanganan yang transparan, menguak fakta apa adanya untuk memberikan kepercayaan kepada publik,” kata Heri.

“Tak cukup dengan penanganan kasus yang transparan, kemudian memberikan sanksi kepada pelakunya, tetapi ke depan adalah evaluasi menyeluruh guna mencegah insiden tidak terulang,” jelas mas Bro.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Waspadai Konten Provokatif

“Jadi tak sebatas meminta maaf atas insiden yang dinilai banyak pihak telah mencederai demokrasi, tetapi dilanjutkan dengan pembenahan ke dalam melalui aksi nyata,utamanya dalam mengawal aksi massa, siapa pun mereka, di mana pun dan kapan pun,” tambah mas Bro.

“Tapi katanya nggak ada anak buah yang salah, yang salah komandannya,” celetuk Yudi.

“Iya, itu istilah yang menjadi rujukan dalam penugasan. Itulah sebabnya perlunya evaluasi menyeluruh secara transparan dan akuntabel. Kita yakini pimpinan Polri akan menindaklanjuti insiden ini sebagaimana kehendak publik,” ujar Heri.

“Gerak cepat harus dilakukan Polri karena rakyat sedang menanti aksi nyata  respons dari Polri,” kata Yudi.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Jangan Asal Giling, Kemas dan Jual

“Semua pihak perlu menahan diri, tak terkecuali jajaran Polri yang kini tengah menjadi sorotan, mendapat kritikan tajam. Sikapilah dengan bijak karena kritikan menambah semangat untuk melakukan perbaikan,” kata mas Bro.

“Betul Bro, jangan bereaksi berlebihan. Maksudnya mungkin baik, tapi karena tidak tepat waktu dan sasaran, bisa disalah artikan,dan menimbulkan ketersinggungan,” kata Heri.

“Kita sikapi kritikan publik itu pada dasarnya untuk perbaikan, memberikan solusi demi masa depan yang lebih baik lagi bagi kita semua,” kata Heri. (Joko Lestari)


Berita Terkait


News Update