Reaksi Raymond Chin dan Malaka Project Usai Insiden Tragis Demo 28 Agustus: 'Heartbroken, What a Tragedy'

Jumat 29 Agu 2025, 10:21 WIB
Heartbroken, what a tragedy. Nyawa melayang dari hasil sistem yang seharusnya melindungi rakyat. Miris kita dibodohi untuk optimis di tengah kebutaan dan ketulian pejabat,” -Raymond Chin- (Sumber: Instagram/@malakaproject dan @raymondchin)

Heartbroken, what a tragedy. Nyawa melayang dari hasil sistem yang seharusnya melindungi rakyat. Miris kita dibodohi untuk optimis di tengah kebutaan dan ketulian pejabat,” -Raymond Chin- (Sumber: Instagram/@malakaproject dan @raymondchin)

POSKOTA.CO.ID - Peristiwa yang terjadi pada 28 Agustus 2025 di Jakarta Pusat kembali membuka luka lama dalam relasi rakyat dengan aparat penegak hukum.

Sebuah demonstrasi yang semula berlangsung sebagai ruang aspirasi berubah ricuh setelah kendaraan taktis (rantis) Brimob melaju ke arah kerumunan. Malang tak dapat ditolak, seorang pengemudi ojek online bernama Affan Kurniawan menjadi korban jiwa.

Kejadian ini memantik amarah, kesedihan, sekaligus pertanyaan mendalam sejauh mana nyawa rakyat dianggap berharga di mata institusi yang seharusnya melindungi mereka?

Baca Juga: Peluang Kerja di Australia 2025: Persyaratan, Gaji, dan Info Loker Terbaru untuk Pekerja Indonesia

Kronologi Tragedi di Jakarta Pusat

Dalam sebuah video yang beredar di media sosial, kendaraan taktis Brimob tampak melaju dengan kecepatan tinggi ke arah massa.

Situasi yang sudah panas berubah semakin kacau. Para saksi menyebut, Affan Kurniawan sedang melintas untuk mengantar pesanan pelanggan saat nahas itu menimpanya.

Korban kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Namun, nyawanya tidak tertolong. Kabar kematian Affan langsung menyebar luas, menyulut gelombang protes baru, tidak hanya di jalanan, tetapi juga di ruang digital.

Tragedi ini bukan sekadar catatan statistik. Ia mengguncang nurani masyarakat, terutama karena korban bukan bagian dari massa aksi, melainkan rakyat biasa yang sedang mencari nafkah. Beberapa tokoh publik dan komunitas turut menyuarakan keprihatinan.

Malaka Project: Kecaman Keras dan Tuntutan Tegas

Gerakan inisiatif edukasi sosial-politik Malaka Project, yang digagas Ferry Irwandi, menyatakan sikap melalui unggahan resmi. Mereka mengecam keras tindakan yang disebut sebagai “pembunuhan brutal.”

“Kami menuntut Kepolisian Republik Indonesia bertanggung jawab sepenuhnya, dalam tempo sesingkat-singkatnya. Jangan ada lagi pembohongan. Jangan ada lagi penundaan,” tulis Malaka Project dalam pernyataannya.

Postingan tersebut kemudian diunggah ulang oleh berbagai tokoh, termasuk Jerome Polin. Seruan mereka jelas: mengadili para pelaku, mulai dari eksekutor di lapangan hingga komandan yang memberi perintah.

Raymond Chin: Luka Hati yang Mendalam

Pengusaha muda dan influencer Raymond Chin mengekspresikan duka melalui Instagram. Ia mengunggah latar hitam dengan emoticon patah hati.

“Heartbroken, what a tragedy. Nyawa melayang dari hasil sistem yang seharusnya melindungi rakyat. Miris kita dibodohi untuk optimis di tengah kebutaan dan ketulian pejabat,” tulisnya.

Raymond melanjutkan dengan kritik tajam terhadap negara yang terkesan lebih sibuk menyelamatkan citra politik ketimbang memperbaiki sistem.

“Gua mau cinta Indonesia, tapi momen-momen kaya gini bikin mikir. Apa negara masih berpihak sama rakyat, atau makin jauh ke bibit tirani?”

Kasus ini bukan sekadar tragedi tunggal, melainkan refleksi dari persoalan struktural. Kehidupan seorang ojek online, seperti Affan Kurniawan, merepresentasikan wajah nyata perjuangan rakyat kecil. Mereka bekerja tanpa henti, siang dan malam, demi menyambung hidup.

Hilangnya nyawa Affan mengingatkan bahwa setiap kebijakan, setiap tindakan aparat, memiliki dampak langsung terhadap rakyat biasa. Pertanyaan yang menggema di masyarakat adalah: Apakah nyawa rakyat sudah sedemikian murah harganya?

Kejadian ini menyayat hati karena memperlihatkan jarak yang semakin lebar antara idealisme perlindungan negara dan kenyataan di lapangan.

Tuntutan Transparansi dan Akuntabilitas

Tragedi ini semakin memperkuat desakan publik untuk menuntut:

  1. Transparansi proses hukum terhadap anggota Brimob yang terlibat.
  2. Akuntabilitas kelembagaan, termasuk evaluasi rantai komando.
  3. Reformasi prosedural agar penggunaan kekuatan dalam demonstrasi tidak lagi berujung korban sipil.

Banyak pihak khawatir, tanpa kejelasan, kasus ini hanya akan menambah deretan panjang peristiwa yang berlalu tanpa keadilan.

Tragedi Affan juga menyentuh ranah politik. Ketika rakyat merasa tidak aman bahkan di ruang publik, legitimasi pemerintah ikut dipertaruhkan.

Baca Juga: Affan Kurniawan Orang Mana? Driver Ojol Korban Insiden Rantis Brimob di Pejompongan

Rakyat sebagai “Korban Tak Tercatat”

Ada satu hal yang sering luput: korban seperti Affan adalah “korban tak tercatat” dalam konflik sosial-politik. Ia bukan demonstran, bukan tokoh, melainkan orang biasa. Namun, justru posisi inilah yang membuat tragedi semakin memilukan.

Peristiwa ini mengingatkan bahwa rakyat kecil kerap menanggung risiko terbesar dari benturan kepentingan. Mereka bekerja di ruang-ruang publik, bergantung pada keamanan jalanan, namun justru paling rentan kehilangan nyawa.

Tragedi 28 Agustus 2025 bukan sekadar catatan hitam dalam buku sejarah. Ia adalah pengingat bahwa negara yang besar hanya bisa berdiri kokoh jika nyawa rakyatnya dijunjung tinggi.

Affan Kurniawan seharusnya pulang membawa senyum setelah menyelesaikan pesanan pelanggan. Namun, yang kembali justru kabar duka yang mengguncang bangsa.

Dalam setiap doa dan seruan keadilan, ada pesan yang tak boleh diabaikan: kehidupan rakyat kecil harus dilindungi, bukan dikorbankan.

Semoga tragedi ini menjadi momentum refleksi, agar institusi negara kembali berpihak pada rakyat, dan agar tidak ada lagi nyawa yang melayang sia-sia di tengah benturan kepentingan.


Berita Terkait


News Update