POSKOTA.CO.ID - Peristiwa yang terjadi pada 28 Agustus 2025 di Jakarta Pusat kembali membuka luka lama dalam relasi rakyat dengan aparat penegak hukum.
Sebuah demonstrasi yang semula berlangsung sebagai ruang aspirasi berubah ricuh setelah kendaraan taktis (rantis) Brimob melaju ke arah kerumunan. Malang tak dapat ditolak, seorang pengemudi ojek online bernama Affan Kurniawan menjadi korban jiwa.
Kejadian ini memantik amarah, kesedihan, sekaligus pertanyaan mendalam sejauh mana nyawa rakyat dianggap berharga di mata institusi yang seharusnya melindungi mereka?
Baca Juga: Peluang Kerja di Australia 2025: Persyaratan, Gaji, dan Info Loker Terbaru untuk Pekerja Indonesia
Kronologi Tragedi di Jakarta Pusat
Dalam sebuah video yang beredar di media sosial, kendaraan taktis Brimob tampak melaju dengan kecepatan tinggi ke arah massa.
Situasi yang sudah panas berubah semakin kacau. Para saksi menyebut, Affan Kurniawan sedang melintas untuk mengantar pesanan pelanggan saat nahas itu menimpanya.
Korban kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Namun, nyawanya tidak tertolong. Kabar kematian Affan langsung menyebar luas, menyulut gelombang protes baru, tidak hanya di jalanan, tetapi juga di ruang digital.
Tragedi ini bukan sekadar catatan statistik. Ia mengguncang nurani masyarakat, terutama karena korban bukan bagian dari massa aksi, melainkan rakyat biasa yang sedang mencari nafkah. Beberapa tokoh publik dan komunitas turut menyuarakan keprihatinan.
Malaka Project: Kecaman Keras dan Tuntutan Tegas
Gerakan inisiatif edukasi sosial-politik Malaka Project, yang digagas Ferry Irwandi, menyatakan sikap melalui unggahan resmi. Mereka mengecam keras tindakan yang disebut sebagai “pembunuhan brutal.”
“Kami menuntut Kepolisian Republik Indonesia bertanggung jawab sepenuhnya, dalam tempo sesingkat-singkatnya. Jangan ada lagi pembohongan. Jangan ada lagi penundaan,” tulis Malaka Project dalam pernyataannya.
Postingan tersebut kemudian diunggah ulang oleh berbagai tokoh, termasuk Jerome Polin. Seruan mereka jelas: mengadili para pelaku, mulai dari eksekutor di lapangan hingga komandan yang memberi perintah.