Sejak kecil, Buffett sudah gemar berbisnis. Di usia enam tahun, ia menjual permen karet ke tetangga.
Usaha kecil lainnya pun ia jalani, mulai dari menjual bola golf bekas hingga popcorn di pertandingan sepak bola universitas.
Saat berumur 12 tahun, ia menjadi loper koran sekaligus menjual langganan koran, bahkan penghasilannya kala itu mengalahkan gaji gurunya.
Kecintaannya pada angka dan investasi membuat Buffett rajin membaca buku-buku keuangan.
Dia bertekad menjadi jutawan di usia 30 tahun. Meskipun sempat ditolak Harvard, ia melanjutkan studi pascasarjana di Universitas Columbia dan belajar langsung dari Benjamin Graham, penulis The Intelligent Investor.
Philosophy investasinya sederhana, mencari perusahaan dengan harga saham di bawah nilai intrinsiknya dan berinvestasi jangka panjang pada bisnis yang sehat.
Baca Juga: Rahasia Cuan Konsisten! 7 Jurus Jitu Manajemen Risiko Investasi Saham yang Wajib Kamu Tahu
2. Hidup Sederhana Meski Miliarder
Berbeda dengan banyak miliarder lain, Buffett memilih hidup sederhana.
Dia tetap tinggal di Omaha, Nebraska, kota kelahirannya, jauh dari hiruk-pikuk Wall Street.
Alasannya, di Omaha ia bisa berpikir lebih jernih dan menghindari distraksi kota besar.
Gaji tahunan Buffett hanya sekitar USD 100 ribu, setara kelas menengah atas di Amerika Serikat—meskipun kekayaannya mencapai miliaran dolar.
Ia masih tinggal di rumah yang sama sejak 1958 dan tidak ragu memakai sepatu yang sudah usang.
