Bahkan ilmuwan merevisi teori, jenderal perang mengubah strategi, pengusaha pivot model bisnis, penulis merevisi draft berkali-kali.
Apakah mereka bodoh karena “menjilat ludah sendiri”? Tentu tidak. Justru itulah tanda kebijaksanaan.
Konsistensi dalam Mencari Kebenaran, Bukan Konsistensi dalam Ucapan
Timothy Ronald menegaskan, orang bijak bukan yang selalu konsisten berkata sama, melainkan yang konsisten mencari kebenaran.
Kalimat ini sederhana tapi revolusioner. Dalam sejarah peradaban manusia, kebenaran tidak lahir dari kaku. Galileo Galilei harus merevisi banyak pandangan ilmiah. Charles Darwin memodifikasi argumen evolusinya seiring data baru bermunculan.
Dalam kehidupan sehari-hari pun sama. Seorang teman yang dulu menganggap karier adalah segalanya bisa berubah menjadi penganut work-life balance setelah merasakan burnout. Tidak ada yang salah dengan itu.
Perspektif Psikologi: Mengapa Mengubah Pendapat Sulit Dilakukan?
Studi dalam psikologi kognitif menjelaskan fenomena ini melalui konsep cognitive dissonance (disonansi kognitif). Saat keyakinan lama berbenturan dengan fakta baru, kita merasa tidak nyaman. Cara termudah meredakan ketidaknyamanan ini adalah:
- Menyangkal fakta baru
- Merasionalisasi pendirian lama
- Menyerang pihak yang membawa bukti baru
Hanya sedikit orang yang mau menempuh jalan lebih berat: mengakui diri keliru.
Namun di sinilah letak kekuatan sejati manusia: kesediaan untuk jujur pada diri sendiri.
Mengapa Dunia Modern Membutuhkan Fleksibilitas Pikiran?
Kita hidup di era di mana perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan melesat. Artificial Intelligence, bioteknologi, perubahan iklim, tren ekonomi global semuanya berubah cepat.
Jika kita tetap terpaku pada perspektif lama, kita akan menjadi penonton, bukan aktor. Fleksibilitas berpikir bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan.
Sebagaimana seorang jenderal di medan tempur yang mengubah strategi, kita pun perlu kemampuan untuk mengoreksi peta mental.
Perspektif Unik: Apresiasi Proses, Bukan Label
Dari sudut pandang manusia biasa, proses merevisi pandangan seringkali terasa memalukan. Namun jika kita mau memandang lebih luas, yang seharusnya dihargai bukanlah label “konsisten” atau “tidak konsisten,” melainkan niat tulus untuk bertumbuh.