Leiyla menghimbau agar masyarakat membiasakan diri untuk mencium aroma makanan terlebih dahulu sebelum mengonsumsinya.
Deteksi dini lewat pancaindra sering kali cukup untuk mencegah konsumsi makanan yang berisiko.
Baca Juga: Makan Beracun Gratis Trending, Buntut Puluhan Siswa MAN 1 Cianjur Keracunan dari Program MBG
“Makanan seperti nasi, mie dan lontong yang kaya karbohidrat akan mudah basi jika disimpan terlalu lama di suhu ruang. Tanda-tandanya antara lain berbau asam, berlendir atau muncul jamur,” kata Leiyla dikutip dari laman UGM pada Senin, 5 Mei 2025.
Keracunan massal dalam kasus MBG diduga kuat terkait dengan buruknya penanganan makanan, terutama dalam aspek penyimpanan dan distribusi.
Leiyla mengatakan bahwa makanan yang disajikan dalam jumlah besar harus memenuhi standar higienitas yang ketat, termasuk pemakaian penutup makanan, penyimpanan di suhu yang tepat serta kebersihan alat dan tenaga penyaji.
“Kalau makanan disimpan lebih dari empat jam tanpa penghangan atau pendingin, risiko pertumbuhan bakteri akan meningkat drastis,” tambahnya.
Baca Juga: Puluhan Siswa MAN 1 Cianjur Keracunan Makanan dari Program MBG, Masyarakat Murka
Menurut Leiyla makanan berbahan dasar daging, ikan, dan produk susu menjadi kelompok yang paling rentan.
Tanda-tanda kerusakan pada olahan daging misalnya bisa dikenali dari bau amis menyengat, warna kehijauan, serta tekstur yang berlendir.
Ia pun menegaskan bahwa bahan pangan hewani harus disimpan di suhu dingin dan dimasak dengan suhu cukup tinggi untuk membunuh bakteri patogen.
“Kalau sayur dan buah yang busuk dapat dilihat dari bentuknya layu, lembek atau berlendir. Kulit buah juga mengkerut serta timbul jamur berwarna putih atau hijau,” ungkapnya.
