"Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.
Artinya: di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberikan dorongan.
Filsafat Pendidikan Ki Hajar Dewantara
Filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara menekankan bahwa pendidikan dan kebudayaan adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.
Pendidikan bukan sekadar tempat anak belajar formal, tetapi menjadi ladang persemaian benih-benih kebudayaan yang membentuk peradaban bangsa.
Menurut beliau, inti dari pendidikan adalah perubahan. Ia menganalogikan pendidikan seperti tata surya yang selalu bergerak, tidak boleh stagnan.
Jika pendidikan berhenti bergerak, maka akan terjadi kekacauan, sebagaimana planet yang berhenti mengorbit.
Selain itu, Ki Hajar memandang bahwa setiap anak adalah unik, layaknya planet yang memiliki orbit dan kecepatan rotasi masing-masing.
Pendidikan seharusnya menghargai keunikan itu, bukan menyeragamkannya. Maka, pendidikan yang memerdekakan menjadi prinsip utama: membebaskan anak untuk tumbuh sesuai kodratnya.
3 Pilar Perubahan Pendidikan
Dikutip dari YouTube Direktorat KS PS dan Tendik, GTK Kemendikdasmen pada Jumat, 2 Mei 2025, pemikiran Ki Hajar tentang transformasi pendidikan bertumpu pada tiga kerangka perubahan:
1. Kodrat Keadaan
Terdiri dari kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam membentuk karakter masyarakat sesuai lingkungan hidupnya, sementara kodrat zaman menuntut adaptasi terhadap perkembangan teknologi dan perubahan sosial.
2. Prinsip Perubahan
Berlandaskan pada tiga asas: kontinuitas (kesinambungan nilai budaya), konvergensi (menuju penguatan nilai kemanusiaan), dan konsentris (menghormati keberagaman sambil tetap berakar pada nilai bersama).
3. Perubahan Budi Pekerti
Pendidikan harus menyentuh seluruh aspek manusia: cipta (pikiran), rasa (perasaan), karsa (kemauan), dan pekerti (perilaku).