POSKOTA.CO.ID - Film horor Pabrik Gula telah tayang di bioskop Indonesia sejak 30 Maret 2025. Menariknya, MD Pictures merilis dua versi dari film ini, yaitu versi Cut dan Uncut.
Diperankan oleh Arbani Yasiz hingga Ersya Aurelia, film ini diadaptasi dari sebuah thread horor viral yang diunggah oleh akun X (dulu Twitter) SimpleMan pada tahun 2020.
Sebelumnya, produser film Manoj Punjabi sudah memberikan bocoran bahwa Pabrik Gula akan memiliki dua versi, yaitu Jam Kuning untuk rating usia 17 tahun ke atas dan Jam Merah untuk penonton 21 tahun ke atas.
Versi Uncut masuk dalam Jam Merah, yang berarti hanya boleh ditonton oleh mereka yang berusia 21 tahun ke atas.
Hal ini dikarenakan versi ini mengandung adegan yang lebih mencekam dan intens dibandingkan dengan versi Cut.
Lantas, apakah film ini layak untuk ditonton? Bagimana review film horror terbaru Indonesia ini? Mari simak ulasan selengkapnya seperti dikutip dari kanal YouTube Cine Crib.
Baca Juga: Lahan Seluas 20 Hektar dan Pabrik Gula Terbakar, Akibat Karhutla di Cilacap
Review Film Pabrik Gula Uncut
Film ini sendiri mengisahkan tentang sebuah pabrik gula yang sering merekrut pekerja musiman.
Sekelompok pekerja yang baru datang ke pabrik ini kemudian mengalami berbagai kejadian mistis, mulai dari gangguan makhluk halus hingga kerasukan.
Seperti film horor pada umumnya, para karakter dalam film ini harus mencari tahu misteri yang tersembunyi di balik kejadian-kejadian mengerikan yang mereka alami.
Jika diperhatikan, pola ceritanya cukup mirip dengan KKN di Desa Penari. Bedanya, latar desa angker digantikan dengan sebuah pabrik gula yang penuh dengan rahasia kelam.
Namun, yang membuatnya lebih menarik adalah kehadiran unsur komedi yang cukup kuat, menjadikannya perpaduan antara horor dan hiburan yang menyegarkan.
Komedi yang disajikan dalam film ini terasa natural dan tidak terkesan dipaksakan. Salah satu adegan paling lucu adalah ketika mereka pulang setelah bermain gaple.
Si Dwi (Arfi Alfiansyah) berjalan santai sambil berkata, "Aku dong kalem," lalu tiba-tiba muncul suara aneh yang membuatnya langsung lari terbirit-birit.
Momen seperti ini membuat film terasa lebih ringan meskipun tetap mempertahankan atmosfer horor yang kuat.
Dari segi visual, Pabrik Gula terasa lebih mewah dibanding beberapa film horor lokal lainnya.
Sejak adegan pembuka yang memperlihatkan karakter naik truk menuju pabrik, suasana ladang tebu luas, hingga interior pabrik mencekam, semuanya diambil dengan sangat apik.
Teknik kamera seperti continuous shot saat karakter memasuki lokasi juga membuat pengalaman menonton semakin imersif.
Baca Juga: KPK Usut Dugaan Korupsi di Pabrik Gula Djatiroto PTPN XI
Salah satu adegan yang paling memorable adalah ketika Wati (Wavi Zihan) melayang. Pergerakan kameranya sangat halus, gerakan tubuhnya terasa alami, dan efek visualnya pun terlihat sangat baik.
Dari segi horor, film ini memiliki beberapa adegan yang cukup menyeramkan, tetapi tidak ada kejutan yang benar-benar mengejutkan.
Salah satu adegan paling seram adalah ketika Fadil (Arbani Yasiz) mengalami sleep paralysis dan melihat sosok misterius di atasnya.
Begitu pula dengan adegan Endah (Ersya Aurelia) yang melihat pertunjukan wayang di tengah malam. Meskipun tidak terlalu berlebihan, suasana creepy tetap berhasil dibangun dengan baik.
Namun, ada beberapa momen yang terasa agak dipaksakan, seperti ketika Endah tiba-tiba merasa terdorong untuk mengikuti seseorang keluar dari pondoknya.
Secara logika, reaksi yang lebih masuk akal adalah kembali tidur atau mencari orang lain, bukan malah mengejar sesuatu tidak jelas.
Disisi lain, film ini menarik karena keberadaan dukun, yaitu Mbah Jinah dan Mbah Samin, yang memiliki peran cukup besar dalam alur cerita.
Biasanya, dukun dalam film horor hanya muncul sekilas sebagai sosok misterius, tetapi di Pabrik Gula, mereka mendapatkan cukup banyak screentime dan karakterisasi yang kuat.
Ritual yang mereka lakukan juga digambarkan dengan detail dan menarik. Salah satu adegan yang paling keren adalah ketika Mbah Samin berubah menjadi seekor anjing.
Efek visual yang digunakan cukup solid, membuat transisinya terlihat mulus dan tidak murahan.
Adegan ini menunjukkan bahwa film ini memiliki perhatian khusus terhadap detail teknis yang dapat meningkatkan kualitas cerita.
Secara keseluruhan, Pabrik Gula adalah film horor yang seru dan menghibur. Perpaduan antara unsur horor dan komedi membuat film ini terasa lebih ringan dibandingkan film horor Indonesia lainnya.
Dari segi sinematografi dan efek visual, film ini juga cukup unggul dibandingkan beberapa film horor lokal lainnya.
Namun, jika Anda mengharapkan alur cerita yang benar-benar segar atau penuh kejutan, mungkin film Pabrik Gula Uncut tidak akan terlalu memuaskan.
