Fakta Menarik Ketupat Lebaran, Begini Kisah Awalnya!

Jumat 04 Apr 2025, 06:25 WIB
Sejarah panjang dan filosofi ketupat yang dijadikan makanan khas Lebaran. (Sumber: Pinterest/Widya)

Sejarah panjang dan filosofi ketupat yang dijadikan makanan khas Lebaran. (Sumber: Pinterest/Widya)

POSKOTA.CO.ID - Lebaran terasa kurang lengkap tanpa kehadiran ketupat yang disajikan dengan opor ayam, sambal goreng kentang, dan tak lupa kerupuk udang.

Namun, perlu kamu tahu bahwa ketupat Lebaran bukan sekadar makanan biasa. Di balik sajian ini, terdapat sejarah panjang dan filosofi yang membuatnya lebih dari sekadar kuliner khas Lebaran.

Selain memiliki nilai filosofis, ketupat juga erat kaitannya dengan budaya dan tradisi masyarakat Nusantara.

Dalam beberapa daerah, ketupat tidak hanya disajikan saat Lebaran, tetapi juga dalam berbagai ritual adat, seperti selamatan dan upacara syukuran.

Lalu, bagaimana sebenarnya asal-usul ketupat Lebaran? Mari kita telusuri kisah menarik di balik hidangan khas ini.

Baca Juga: Banting Setir! Adul Jual Kulit Ketupat Musiman, Raup Untung Besar

Asal-Usul Ketupat dalam Tradisi Lebaran

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Angeline Ariyanti dan koleganya dalam Journal of Ethnic Foods, ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga pada abad ke-15 hingga awal abad ke-16.

Sunan Kalijaga adalah salah satu dari Wali Songo, yang memiliki peran besar dalam penyebaran agama Islam di tanah Jawa.

Saat berdakwah di Demak, Sunan Kalijaga memperkenalkan dua acara setelah bulan Ramadan, yaitu Bakda Lebaran dan Bakda Kupat.

Bakda Lebaran dirayakan pada hari pertama Idul Fitri dengan doa dan silaturahmi. Sementara, Bakda Kupat diadakan seminggu setelah Idul Fitri.

Tradisi Bakda Kupat merupakan hasil adaptasi dari kebudayaan sebelumnya yang kemudian diselaraskan dengan nilai-nilai Islam oleh Sunan Kalijaga.

Dalam tradisi ini, masyarakat membuat anyaman berbentuk segi empat dari janur muda, mengisinya dengan beras, lalu mengukusnya hingga matang.

Ketupat yang telah matang kemudian dibagikan kepada kerabat dan tetangga sebagai simbol kebersamaan dan saling berbagi.

Seiring berjalannya waktu, ketupat tidak hanya menjadi bagian dari budaya masyarakat Jawa tetapi juga menyebar ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan hingga ke negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei.

Penyebaran tradisi ini beriringan dengan luasnya pengaruh Islam yang membawa serta budaya khas Indonesia, termasuk menyajikan ketupat saat Idul Fitri.

Baca Juga: Gercep Ambil! Promo Dunkin Donuts Beli 6 Donat dan 2 Minuman, Dapat Donat Ketupat Cuman Rp85.000

Makna Filosofis Ketupat

Ketupat sendiri bukan hanya sekadar makanan khas Lebaran, tetapi juga memiliki makna mendalam yang mencerminkan nilai-nilai kehidupan dan spiritualitas Islam.

1. Simbol Permintaan Maaf dan Kesucian

Secara filosofis, ketupat melambangkan permintaan maaf dan berkah, yang selaras dengan makna Idul Fitri.

Dalam budaya Jawa, ketupat disebut kupat, yang merupakan singkatan dari ngaku lepat atau "mengakui kesalahan".

Hal ini mengandung pesan bahwa manusia harus saling memaafkan satu sama lain saat Hari Raya Lebaran.

2. Lambang Nafsu dan Hati Nurani

Beras dalam ketupat melambangkan nafsu manusia yang harus dikendalikan selama bulan suci Ramadhan.

Kemudian, janur yang digunakan sebagai pembungkus berasal dari kata "jatining nur", yang dalam bahasa Jawa berarti "hati nurani".

Dengan demikian, ketupat menjadi perlambang pengendalian diri, di mana manusia harus mampu menahan hawa nafsu dan mendahulukan hati nurani dalam setiap tindakan mereka.

3. Pesan Moral dalam Tradisi Sunda dan Jawa

Dalam budaya Sunda, ketupat sering disebut kupat, yang mengingatkan manusia untuk tidak ngumpat atau berkata buruk tentang orang lain.

Sementara dalam budaya Jawa, ketupat menjadi bagian dari frasa ngaku lepat, yang berarti mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada sesama.

Nah, itu dia sejarah hingga makna filosofisnya ketupat yang menjadi mekanan khas di meja makan saat Lebaran.


Berita Terkait


News Update