Film Israel-Palestina No Other Land Raih Piala Oscar sebagai Film Dokumenter Terbaik, Sempat Sulit Tayang di AS

Senin 03 Mar 2025, 12:46 WIB
Film No Other Land karya sineas Israel-Palestina memenangkan penghargaan dalam Piala Oscar 2025. (Sumber: Laman No Other Land/X/@Palestine_UN)

Film No Other Land karya sineas Israel-Palestina memenangkan penghargaan dalam Piala Oscar 2025. (Sumber: Laman No Other Land/X/@Palestine_UN)

POSKOTA.CO.ID – Kolaborasi antara sineas Israel-Palestina dengan film bertajuk No Other Land kembali mendapatkan pengakuan Internasional.

Film tersebut memenangkan Piala Oscar dalam kategori Film Dokumenter Terbaik dalam event penghargaan bergengsi yang digelar pada Minggu, 2 Februari 2025 waktu setempat.

No Other Land adalah film tentang warga Palestina yang berjuang untuk melindungi rumah mereka dari pembongkaran oleh militer Israel.

Baca Juga: Video Viral Jemaah Umroh Asal Indonesia di Tanah Suci yang Ternyata Akibat Perhatian Jurnalis Palestina

Ini maerupakan karya kolaborasi antara sineas Israel-Palestina, Porcelain War, Sugarcane, Black Box Diaries, dan Soundtrack to a Coup d’Etat.

Film yang diproduksi antara 2019 dan 2023 ini mengikuti aktivis Basel Adra saat ia menghadapi risiko penangkapan untuk mendokumentasikan penghancuran kampung halamannya, Masafer Yatta.

Kapung halamannya tersebut dihancurkan oleh tentara Israel untuk digunakan sebagai zona pelatihan militer, di tepi selatan Tepi Barat.

Permohonan Adra tidak didengar sampai ia berteman dengan seorang jurnalis Yahudi-Israel, Yuval Abraham, yang membantunya memperkuat ceritanya.

Baca Juga: No Other Land Masuk Nominasi Oscar, Film Dokumenter Sineas Palestina-Israel yang Curi Perhatian

Saat menerima penghargaan, Adra mengatakan bahwa film No Other Land mencerminkan kenyataan pahit yang telah dialami warga Palestina selama beberapa dekade.

“Sekitar dua bulan lalu, saya menjadi seorang ayah, dan saya berharap kepada putri saya bahwa dia tidak akan menjalani kehidupan yang sama seperti yang saya jalani sekarang,” katanya, melansir Al Jazeera.

“Saya selalu takut pada pemukim, kekerasan, pembongkaran rumah, dan pemindahan paksa yang dialami dan dirasakan oleh komunitas saya setiap hari di bawah pendudukan Israel,” sambungnya.

Ia juga meminta dunia untuk mengambil tindakan serius untuk menghentikan ketidakadilan dan menghentikan pembersihan etnis terhadap rakyat Palestina.

Baca Juga: Indonesia Sambut Baik Gencatan Senjata Israel-Palestina, Wamenlu Ajak Bangun Gaza Kembali

Kuatkan Suara Saat Bersama

Abraham mengatakan, mereka membuat film dokumenter tersebut karena saat bersama-sama, suara mereka akan lebih kuat.

“Kita melihat satu sama lain: Kehancuran yang mengerikan di Gaza dan rakyatnya yang harus diakhiri. Sandera Israel, yang ditangkap secara brutal dalam kejahatan 7 Oktober, yang harus dibebaskan,” ujarnya.

Abraham mengkritik Israel yang menghancurkan kehidupan Adra, dan mengatakan ada jalan berbeda dengan mengatakan solusi politik tanpa supremasi etnis, dengan hak-hak nasional bagi kedua rakyat.

Awalnya, film tersebut kesulitan mendapatkan distributor di AS, jadi para pembuatnya mengatur agar film tersebut ditayangkan selama satu minggu di Lincoln Center pada November 2024 agar memenuhi syarat masuk nominasi Oscar.

Baca Juga: Drama When The Phone Rings Dikecam Karena Singgung Palestina dan Israel, Banjir Rating 1

Piala Oscar adalah penghargaan bergengsi terbaru yang diperoleh No Other Land. Sebelumnya, film tersebut juga memenangkan penghargaan penonton dan penghargaan film dokumenter.

Seperti pada Festival Film Internasional Berlin pada Februari 2024, serta penghargaan New York Film Critics Circle untuk Film Non-Fiksi Terbaik.

Film ini sangat bergantung pada rekaman kamera dari arsip pribadi Adra. Ia merekam tentara Israel yang menghancurkan sekolah desa dan mengisi sumur air dengan semen untuk mencegah orang-orang membangun kembali.

Film ini juga memperlihatkan penduduk bersatu setelah Adra merekam seorang tentara Israel yang menembak seorang pria setempat yang memprotes pembongkaran rumahnya.

Baca Juga: Viral Erdogan Walk Out saat Prabowo Pidato di KTT D8, Dukung Israel atau Palestina?

Akibat penembakan tantara Israel tersebut, pria itu kemudian menjadi lumpuh, dan ibunya berjuang untuk merawatnya saat tinggal di sebuah gua.

Melansir Al Jazeera, lebih dari 500.000 pemukim tinggal di Tepi Barat yang diduduki merupakan rumah bagi sekitar tiga juta warga Palestina.

Para pemukim memiliki kewarganegaraan Israel, sementara warga Palestina hidup di bawah kekuasaan militer dengan Otoritas Palestina yang mengelola pusat-pusat populasi.

Banyak kelompok HAM yang menggambarkan situasi tersebut sebagai apartheid, sebuah tuduhan yang ditolak oleh pemerintah Israel.

Sebab mereka memandang Tepi Barat sebagai jantung historis dan alkitabiah dari orang-orang Yahudi dan menentang kenegaraan Palestina.


Berita Terkait


News Update