“Ada perwira lagi yang mengawal. Mungkin besok-besok dia bisa jadi saksi, jadi tersangka atau enggak jadi. Makanya itu kenapa dia disebut sakti,” tambah Aryanto.
Aryanto juga mengaku tidak pernah mendengar bahwa Bharada E pernah diperiksa oleh. Namun, ia meyakini bahwa penyidik sebenarnya sudah melakukan pemeriksaan kepada ajudan Irjen Ferdy Sambo itu.
“Bharada E pasti sudah diperiksa oleh penyidik maupun tim khusus yang dibentuk Kapolri. Kenapa? Keterangan dia bilang membela diri lalu menembak lima kali dari siapa kalau bukan keterangan saksi. Cuma oleh polisi tidak dipublis. Karena itu dianggap bisa mengganggu jalannya penyidikan. Itu lucunya. Alasannya kan sering begitu polisi,” jelas mantan Kapolda Sulawesi Tengah itu.
Setelah itu, Aryanto menyebut kalau nalar publik sudah meyakini bahwa Bharada E lebih sakti karena statusnya yang masih belum jelas di saat jenderal sudah dinonaktifkan.
Ia menambahkan, “Saya mendengar jika Kapolres Jakarta Selatan itu dinonaktifkan karena ada kekeliruan saat olah TKP. Tiga perwira itu nonaktif untuk menghilangkan hambatan psikologis. Namun, kalau Bhadara E mau dinonaktifkan atau mau dipecat enggak ada pengaruhnya terhadap penyidikan ini."(*)