Usai menanam pohon, Doni dipersilahkan menandatangani prasasti. Pasasti itu yang kemudian diletakkan di depan pohon matoa yang baru saja ditanam.
Jatuh-bangun
Bibit Waluyo yang sudah "nguping" tentang “politik kesejahteraan” yang diusung Doni Monardo membuka kedua tangan, menyambut antusias peluang kerjasama ke depan.
Bibit mengisahkan asal-usul Senjakala Village. “Cikal-bakalnya sudah saya mulai tahun 1998, selepas saya menjabat Danrem. Pangkat saya masih kolonel,” ujar Bibit, Danrem 043/Garuda Hitam, Lampung (1996-1997).
Awalnya, ia hanya memiliki 1.000 meter persegi, lalu menjadi 2.000 meter persegi. Seiring berjalannya waktu, luas lahan bertambah.

Setelah menanam matoa, Doni Monardo menanda tangani prasasti di obyek wisata Senjakala Village,milik Letjen Purn Bibit Waluyo. (ist)
“Sekarang kurang lebih 11 hektare. Yang sudah digarap sekitar tiga hektare. Tempat ini memiliki sejarah panjang. Jangan dilihat hari ini,” ujar Pangkostrad 2002-2004 itu.
Ia mengalami jatuh-bangun. “Saya pernah memelihara sapi, gagal. Lalu beralih ke kambing, gagal. Kolam ikan, juga gagal. Tapi kesimpulannya, kita tidak boleh menyerah. Beruntung kita semua dididik untuk menjadi prajurit yang tangguh dan pantang menyerah,” ujar Bibit pula.
Bibit berpesan kepada para purnawirawan agar tidak berhenti berbuat. Salah satu cara menghindari post power syndrome adalah dengan tetap bekerja.
“Jangan takut pensiun. Jangan berhenti bekerja. Harus tetap semangat.,” ujar Letjen purn Bibit Waluyo seraya menambahkan, “seperti saya, saat ini benar-benar menikmati hidup di desa dengan bertani. Setiap hari menghirup udara segar.”
Setelah banyak mengalami kegagalan di sektor peternakan, ia fokus ke pertanian dan perkebunan. “Saya tanam sayur-sayuran dan buah-buahan. Beberapa komoditi bahkan sudah ada yang diekspor,” kata Bibit, yang mengaku mempekerjakan tak kurang dari 250 orang.
Selain menanam sendiri, Bibit juga memberdayakan kelompok-kelompok tani di Magelang. Bibit mengumpulkan kelompok tani untuk diberi pendidikan seputar dunia pertanian.
Dari mengolah tanah, menanam, hingga menjualnya ke pasar. Sesekali Bibit ikut turun sendiri ke desa-desa untuk membeli hasil pertanian itu lalu menjualnya ke pasaran.
