Mengangkat kehormatan dan kelebihan orang tuanya agar semerbak keharumannya. Jika terdapat kekurangan harus ditutupi, bukan diungkit, diobral dan diviralkan.
Lebih–lebih kepada orang yang telah tiada, meninggal dunia, agama apapun mengajarkan untuk mengenang kebaikannya, tetapi tidak menjelek- jelekan keburukannya selama di dunia.
Pitutur luhur ini, bukan sebatas sikap anak kepada orang tuanya. Tetapi, seperti dikatakan pak Harmoko, lewat sejumlah ulasan di antaranya pada kolom “Kopi pagi” nya, bisa diartikan dalam lebih luas lagi.
Bisa kepada orang yang dituakan, tokoh masyarakat, orang yang memiliki kredensial sosial di masyarakat. Tak terkecuali orang yang telah berjasa kepada negeri ini, serta para pemimpin negeri.
Siapapun dia, yang telah menjadi pemimpin negeri ini pasti punya peran memajukan bangsa, sekecil apapun itu.
Kalau masih terdapat banyak kekurangan, selain karena keterbatasan situasi dan kondisi, upaya mewujudkan cita- cita negeri, masih berproses hingga saat ini. Dan, harus terus berproses.
Kalaupun ada kekurangan atau ada yang tidak sesuai, mari kita kawal secara kritis dengan kritik yang membangun bukan menjatuhkan.
Mengambil yang baik di masa lalu kemudian dikembangkan di era kekinian, serta membuang jauh yang buruk, itu bagian dari sikap “mikul dhuwur, mendhem jero”.
Jangan sebaliknya perilaku buruk seperti korupsi, manipulasi, kolusi yang pernah dilakukan ‘orang tuanya’, koleganya, kerabatnya, ikut diteruskan, malah ada yang berjamaah.
Perilaku semacam ini tak sejalan dengan pitutur luhur “mikul dhuwur, mendhem jero”.
Tak juga selaras dengan manusia Indonesia yang berjiwa Pancasilais. (Azisoko *)
