Sering dikatakan, sejarah adalah masa lalu, sudah terlewati. Yang terpenting adalah masa sekarang dan mendatang.
Tetapi hendaknya patut diingat, masa sekarang adalah rangkaian dari masa lalu.
Masa lalu sebagai cermin, masa sekarang sebagai batu pijakan masa depan, mau dikemanakan perjalanan negeri ini.
Para pendiri negeri sering berpesan untuk tidak serta merta melupakan sejarah.
Sang founding fathers, Bung Karno, mengatakan, “Janganlah melihat masa depan dengan mata buta! Masa lampau adalah berguna sebagai kaca benggala dari pada masa yang akan datang”.
Kaca benggala adalah cermin tebal dan besar yang bisa memantulkan cahayanya untuk merenung dan introspeksi diri.
Untuk membantu telaah, menambal kekurangan, bagian mana yang bagus untuk dikembangkan dengan era kekinian.
Dengan kaca benggala, ketimbang spion atau cermin hias, kita dapat merefleksikan situasi dan kondisi lebih riil, lebih luas dan lebih jauh lagi, sehingga memantulkan kreasi dan inspirasi untuk melakukan perbaikan di era sekarang dan di masa mendatang.
Lantas siapa yang akan bercermin di kaca benggala untuk melihat kelebihan dan kekurangan? Jawabannya kita semua yang merasa sebagai anak negeri.
Dalam filosofi Jawa dikenal: Mikul dhuwur, mendhem jero. Mikul = membawa di atas bahu, dhuwur = tinggi. Mendhem = menanam, jero = dalam. Sesuatu yang harus dijunjung tinggi, dan ditanam dalam–dalam.
Ini anjuran bagi seorang anak untuk dapat menjunjung tinggi kehormatan dan memuliakan orang tuanya.
Sementara sebisa mungkin menyembunyikan segala aib dan kesalahan orangtuanya.
