Alkisah, salah seorang mahasiswa FKIP Unirta yang melakukan kajian arkeologi mengaku sangat terpukau dengan bentuk bangunan yang ada di kawasan itu.
Menurutnya, perlu ada langkah dan kebijakan strategis untuk menyelamatkan benda-benda bersejarah itu.
Mungkin yang harus diperhatikan adalah kajian yang lebih mendalan dan pengembangan serta pelestarian. Benda-benda itu membuktikan adanya peradaban Islam yang modern di sini pada zaman itu,” paparnya.
Sementara arkeolog sekaligus sejarawan asli Banten Ali Fadhillah mengungkapkan, situs itu sangat penting tidak hanya bagi mahasiswa.
Namun juga bagi stakeholder yang menangani sejarah dan benda-benda bersejarah.
Jika melihat fakta-fakta yang ada, lanjutnya, maka antara Banten dan Aceh ada hubungan ekonomi dan politik pada akhir abad XV.
Mungkin juga gerbang yang dinamai Lawang Abang itu dahulunya adalah dermaga tempat bersandarnya kapal-kapal niaga dari luar Banten.
“Ini perlu kajian dan penelitian yang lebih intensif. Saya harap, kampus (Untirta) segera berkoordinasi dengan BPCB (Balai Pelestarian Benda Cagar Budaya),” pungkasnya. (kontributor banten/luthfillah)
