Oleh Harmoko
TAK bisa dipungkiri bahwa negeri kita dibangun atas pondasi keberagaman. Dan, heterogenitas inilah yang sejatinya menyatukan negeri kita sebagaimana tercermin dalam Bhineka Tunggal Ika. Meski berbeda, tetapi tetap satu.
Maknanya kita hendaknya menyadari adanya perbedaan. Keberagaman perlu disikapi sebagai anugerah. Suatu kondisi yang tak perlu dipertentangkan, diperdebatkan yang pada akhirnya dapat memicu gesekan.
Pemahaman bahwa perbedaan tak perlu diperdebatkan lagi, sebuah kewajiban bagi kita dalam rangka membangun bangsa dan negara ke depan.
Tak hanya dalam ucapan, juga sikap perilaku perbuatan dalam setiap saat, dari waktu ke waktu, dari hari ke hari tiada henti, meski terdapat perubahan situasi.
Ini diperlukan sikap saling menghormati, saling menghargai. Sangat tidak bijak jika kita mengakui adanya keberagaman, tapi masih mempersoalan perbedaan. Tidak bijak jika mengakui perbedaan latar belakang, tapi masih ada "bisik-bisik" asal- usul dari kelompok mana, aliran politik mana, lebih - lebih melihatnya dari status sosial ekonominya. Jika itu yang terjadi, bukan keberagaman dalam persatuan, tetapi persatuan tanpa keragaman.
Sikap saling menghormati akan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari - hari, dapat diaplikasikan kalau ada kesadaran diri untuk mengamalkan sikap dan perbuatan luhur.
Sering dikatakan, perbuatan luhur harus dimulai dari diri sendiri, apa yang tercetus dari hati nurani. Sebab, perbuatan luhur mengandung unsur - unsur kebaikan dan kebajikan dimulai dari ucapan hingga perbuatan.
Ucapan baik berarti tidak menyinggung perasaan orang lain, ucapan yang dilandasi dengan kesopanan dan keramah tamahan. Bukan ucapan berisi cacian dan makian, apalagi mengandung "bibit unggul" penyakit segala macam.
Sebaliknya dan juga sebaiknya perbuatan luhur adalah perbuatan yang mampu menjadi cermin keteladanan, mampu mengendalikan hawa nafsu, membuang ego dan kesewenang-wenangan. Perbuatan luhur ini dapat dan pasti terlihat oleh orang yang suka meminta maaf, meski belum tentu bersalah. Mengaku bersalah demi menjaga keharmonisan, memupuk kebersamaan, dan memadu persatuan, meski tidak ada kesalahan. Berani mengalah demi kebersamaan, lebih baik ketimbang mencari pembenaran, tetapi berakibat perpecahan.
Perbuatan luhur akan terasa mudah dilakukan, akan mengalir dengan sendirinya, jika dilandasi oleh budi pekerti dan niat luhur.
Bicara budi pekerti berarti tak lepas dari soal akhlak. Disebut berakhlak mulia, jika perilaku baik itu dibarengi dengan upaya yang sungguh - sungguh dari dalam diri sendiri.
Perilaku baik dilakukan karena semata upaya diri untuk selalu berbuat baik, sebagai bagian dari ketataan diri terhadap norma.
Ucapan dan perbuatan dilakukan tanpa pamrih, bukan berharap imbalan, bukan juga pamer kehebatan. Perilaku baik ditunjukkan secara ikhlas.
Dan, ucapan serta perilaku baik dilakukan terus menerus tiada henti dalam situasi seperti apa pun, kondisi apa pun dan bagaimana pun. Sikap semacam ini sering disebut "ajeg" atau istiqomah.
Kita berharap tingkatan perbuatan luhur yang sudah melekat dalam diri dan tertularkan ke lingkungan keluarga, masyarakat. Lebih luas lagi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Penerapan perbuatan luhur dalam lingkup keluarga tentu berbeda dengan lingkungan sosial yang lebih luas lagi.
Tetapi pada level keluarga ini menjadi awal edukasi. Baik di keluarga akan mendorong kebaikan di lingkup masyarakat dan seterusnya.
Pada lingkup interaksi keluarga, problema yang dihadapi tak sekomplek lingkungan masyarakat. Tetapi, hubungan sesama anggota keluarga yang memerlukan sikap toleransi, saling menghargai privacy, saling memahami menjadi pondasi menanamkan akhlak mulia.
Sebab, saling memahami dan menghormati perbedaan menjadi perbuatan luhur sebagai kunci harmonisasi dalam keluarga.
Jika perbuatan luhur sudah tertanam di lingkungan keluarga, akan menjadi modal ketika bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Adaptasi akan mudah dilakukan jika sudah terbiasa dalam keharmonisan keluarga yang saling menghargai, menghormati dan saling memahami situasi.
Satu hal yang patut mendapat pemahaman bersama adalah perlunya mengedepankan kepedulian sosial, peduli membangun ikatan sosial untuk mewujudakan lingkungan yang harmonis.
Pada tataran berikut adalah penerapan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Di lingkup ini dituntut adanya kesadaran untuk bersikap lebih luwes mengingat keberagaman lebih komplek.
Kesatuan dan persatuan dapat dibangun di atas keberagaman, jika masing - masing individu rela melepaskan egonya demi kepentingan umum, kepentingan yang lebih luas lagi.
Tak hanya saling menghargai, masing- masing perlu lebih mengedepankan sikap rela berkorban untuk menyamakan persespsi. Selalu berpikir positif (husnudzon), bukan berpikir negatif ( zuhudzon) untuk menjaga keharmonisan dan keserasian dalam berbangsa dan bernegara. Itulah perilaku luhur yang perlu menjadi jati diri bangsa.
Tak ada yang bisa mencerai - berai, selama dalam diri kita masih terjalin kuat keselarasan dan keharmonisan. (*)